Elizabeth
Morgan
Aku terkejut bukan
main. Ben Johnson mendapati diriku
tengah asyik menata bunga dalam pot yang baru saja kubeli. Aku tak pandai
menyembunyikan perasaan, salah satu hal yang telah lama aku sadari sejak aku mengenal dirinya
adalah ia selalu membuat jantungku berdegup tak beraturan—aku tiba-tiba begitu sangat risau dan terus-menerus memikirkannya sejak kejadian malam itu. Lima tahun berlalu
setelah kepergian Sarah rumah itu menjadi terasa amat dingin,
dinding-dindingnya membeku dan seluruh benda mati penghuni rumah itu pun seakan menjadi saksi bisu masa lalu kami—tak ada seorang pun yang
mau bertandang kerumah tua itu kecuali jika benar-benar ada kepentingan
mendesak.
“Rupanya kau berada disini,” Ben mencoba mengawali pembicaraan. Aku
memalingkan wajahku darinya.
“Kau lagi,” erangku sedikit ketus. Ia tak jua menyerah—matanya yang
berwarna coklat menyala terus mencari sudut wajahku meski sikapku dingin
terhadapnya. Aku tak tahu, aku selalu menutup diriku dari orang sekitarku
terlebih jika orang asing atau yang baru saja kukenal, itulah mengapa aku tak
terlalu banyak teman. Sungguh aku tak peduli.
“Ya, tentu saja karena aku tahu kemana aku harus pergi mencarimu..”
“Apa? Oh, please jangan
bercanda Ben..!” kataku—kuharap ia mengerti aku tak ingin mendengarnya seolah ia
seperti mengatakan hanya akulah yang
berada dibenaknya—begitu pemikiran konyol itu seketika melesat hebat dalam
otakku. Aku bahkan dapat menghitung seberapa lama aku mengenalnya. Sangat singkat.
Aku tak kuasa mendengar suaranya yang merdu dan menggoda itu. Ben
mendekatkan wajah tampannya padaku. Sorot matanya memburu dua bola mataku penuh
isyarat yang menggambarkan isi hatinya—aku mencium aroma seutas masa yang Ben tinggalkan namun masih melekat dalam memorinya.
Aku tak tahan ketika melihat Ben selalu menatapku seperti ini, aku begitu tergoda ketika bibirnya mulai
mengatakan sesuatu. “Kau tahu? Aroma tubuhmu yang membuat aku selalu tahu dimana keberadaanmu. Aroma tubuhmu bagai
sebuah medan magnit bagiku,” ungkap Ben akhirnya dengan suaranya yang memikat—seakan menghipnotis. Ini sudah terdengar
lebih gila.
Tubuhku serasa terpasung, bibir tipisku tak mampu berucap lagi ketika
menatap matanya yang berwarna coklat menyala. Lalu aku mendorong pelan dadanya
dengan tanganku agar ia tak terlalu dekat dengan wajahku yang memerah karena malu. Tentu aku tidak sanggup bila harus membalas tatapannya berlama-lama, ia nyaris membuatku
ingin menyentuh wajahnya. Nyaris.
Suara riuh hujan membangunkanku. Ben berdiri di sampingku dan memandangi
air yang jatuh dari langit di depan jendela kaca yang mengembun.
“Sadar atau tidak hujan mempunyai kemampuan untuk menghipnotis manusia mengenang
masa lalu,” katanya. Kuanggap kemungkinan besar Ben benar. Aku berpaling
menjauh darinya, ia mengerutkan kening—kecewa. “Apa kau ada waktu untuk kita
bicara lagi nanti setelah makan siang?” tanya Ben saat aku hendak pergi.
“Aku tunggu kau di gerbang kampus jam dua belas siang, jangan terlambat!” perintahku. Aku sendiri tidak mengerti apa yang telah aku katakan barusan—aku membuat janji dengan
Ben Johnson. Ini
kedengarannya mungkin sedikit lucu.
Aku kembali ke kelas—berusaha menenangkan diriku yang sedang bergejolak
tiap kali Ben menatapku. Dikelas tampak tenang. Aku membuat diriku senyaman
mungkin berada di tempat dudukku. Di jendela kelas yang nampak basah berembun
karena titik-titik hujan aku melihat Ben tampak sedang mengobrol dengan seorang
perempuan dan seorang laki-laki. Perempuan itu luar biasa cantik dengan rambut
panjang keriting pirang yang menawan,
berkulit putih bak porselen dan wajah sama pucatnya dengan Ben. Juga pria yang
tinggi badannya tidak jauh beda dengan Ben Johnson. Tampan tapi tak lebih
tampan dari Ben tentu saja, hanya ia terlihat sedikit lebih muda dari Ben.
Bahasa tubuh mereka penuh isyarat. Sayangnya aku tak bisa mendengar
pembicaraan mereka, yang dapat aku lihat dari kejauhan hanyalah kening Ben yang tampak mengerut—seakan banyak hal yang harus ia
tanggung sendiri, seakan ia sedang berada di bawah tekanan.
“Hai, Michelle..,” Becca mengejutkanku dari arah belakang. Ia hanya
satu dari sekian banyak teman dikelas bahasa ini yang cukup mengenal bagaimana
diriku. Ia memiliki rambut berwarna coklat, lurus namun ikal di bagian
ujungnya, lebih panjang dari rambutku. Kulitnya putih halus, ia cantik
menurutku. Karena banyak teman pria yang menyukainya.
“Hai Becca, kau rupanya,” aku tersenyum simpul padanya.
“Aku selalu melihatmu sendirian. Kau sedang melihat apa diluar sana?”
tanya Becca yang tampak bingung melihatku sedikit resah ketika aku mencari-cari
sosok Ben dan dua temannya yang sedang mengobrol tadi tiba-tiba hilang.
“Ah, tidak. Sepertinya tadi aku melihat Ben di sana.”
“Disana?” Becca menunjuk ke arah depan
pagar kampus, tepat seperti yang aku tunjuk juga. “Kau bercanda. Disana tidak
ada siapa pun,” kata Becca sepakat dengan
pendapatnya.
“Apa?” aku terkejut, menatap keluar berkali-kali dan sungguh tak
memercayai hal ini.
“Kau ini gila?” cecarnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Ada apa Michelle? Apa kau baik-baik saja?” Ben tiba-tiba menyela diantara
perbincangan kami. Ia mengagetkan aku untuk kesekian kali.
“T…T..Tt..Tapi, kau? Tidak mungkin..,” kataku
terbata-bata. Aku tersentak, rasanya air ludahku seperti tersangkut dipangkal
tenggorokan. Kulihat pakaiannya kering, tak terkena tetesan air hujan
sedikitpun. Wajah tampannya juga tenang, nyaris seperti tak terjadi apa pun padanya. Bahkan aku beranggapan ia seorang pembohong terhebat yang
pandai berpura-pura. Padahal sangat jelas aku melihatnya di depan gerbang
kampus.
“Tadi..—bukankah tadi kau disana, Ben?” tanyaku lagi, tak percaya.
“Ini sungguh tidak mungkin..” gumamku.
“Aku tak mengerti. Tapi disana tak ada siapapun sejak tadi,” tukas Becca setelah aku sadar klarifikasiku tak
berhasil. Wajahnya tampak
berkeras, ia tidak memercayai kata-kataku, karena kenyataannya mereka sudah tak
ada lagi di sana. Aku tahu Becca pasti menganggap hal
yang aku katakan ini konyol, sepertinya ia juga menganggapku
layaknya seperti orang tolol.
“Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja,” cetusku, dua tanganku mengepal dan mengapit kepala.
“All right, aku mengerti. Mungkin kau terlalu lelah berpikir, jadi
kurasa kau sedang berhalusinasi.., karena di luar sedang hujan,” kata Ben.
“Well, aku pikir kau benar. Aku terlalu lelah,” kataku akhirnya
saat dua tanganku memegangi kepalaku—hingga aku berpikir kalau aku sudah gila
karena kehadiran Ben dalam hidupku secara tiba-tiba. Meski hatiku menyangkal
bahwa yang tadi itu aku sedang tidak berhalusinasi.
Firasatku mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diriku
(aku tidak akan mengatakan firasat ini pada siapapun karena sudah pasti tidak
akan ada yang memercayai hal ini). Kurasa mataku berkaca-kaca dan lelah bukan
main, kepalaku juga terasa amat sakit dari yang biasanya kuderita. Kulihat
disekelilingku, buram dan hitam hingga sebuah pintu yang tampak dihiasi lampu
pijar dengan cahaya menyilaukan membawaku kesebuah tempat yang sama sekali tak
kukenal.
Disana terbentang sepetak taman bunga lavender, disekeliling taman tumbuh
pohon-pohon besar yang rindang. Aku mencoba melalui jalan setapak yang aku
sebut taman itu. Lalu aku merebahkan tubuhku di rerumputan nan hijau, sejenak
aku merasa seperti di surga. Tempat ini begitu indah. Tepat seperti mimpiku kemarin malam, lagi dan lagi.
“Elizabeth… Elizabeth…” Suara itu menggema diparuh bagian gendang
telingaku secara alami. Aku tersentak dan segera membuka mata, ketakutan mulai
menjalari perasaanku lagi. Tak tenang—merasa amat sendiri dan sedih.
“Siapa?” tanyaku dengan suara gemetar.
“Elizabeth..” suara itu menggema lagi kali ini diantara dahan dan ranting-ranting rapuh yang basah
dari pepohonan pinus besar.
Kemudian kulihat seorang laki-laki bertubuh tinggi muncul dari kepulan asap
tebal. Ia mengenakan jubah hitam, wajahnya luar biasa pucat, rambutnya kuning
keemasan. Dua bola matanya yang berwarna coklat-merah menyala menatapku tajam
seolah ingin menerkamku.
“Elizabeth..,” sebutnya lagi, lebih halus dengan intonasi rendah namun
terdengar seperti bernyanyi.
“Siapa Elizabeth? Siapa yang kau cari? Pergilah menjauh dariku! Aku bukan
Elizabeth..!!” jeritku pada pria rambut kuning keemasan mengerikan itu.
“Telah sekian lama aku mencarimu, Eliza..” Ia terus mendekat padaku,
menunjukkan dua gigi taringnya. “Marilah ikut bersama denganku, Eliza..! Aku
merindukanmu..,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya, jari-jari dan
kukunya yang panjang. Aku tak kuasa—membuat aku merasa jijik.
“Menjauhlah darinya!” Seorang pria tampan tiba-tiba hadir diantara
kemilauan cahaya kekuningan, ia mendekati celah antara aku dan pria seram tadi.
‘Ben Johnson’, diakah itu? Oh, Tuhan aku tak percaya ini. Tapi sosok tampan itu
benar-benar dirinya.
“Ben Johnson, bagaimana kabarmu? Lama kita tak berjumpa. Aku telah lama
menunggu kehadiranmu, kau tahu itu?” katanya, ia lalu tertawa keras—suaranya
menggema di sudut-sudut pepohonan berlumut.
Raut wajah Ben terlihat amat sedih ketika menatapku, rahangnya menegang. Aku tak percaya kini ia sedang memelukku, melindungiku dari
pria bertaring mengerikan tadi. Kurasakan tubuhnya
sedingin es, tapi hebatnya kekhawatiranku luar biasa lenyap begitu ia
membalutkan tubuhnya padaku. Ku dengar suara yang tadinya samar kini semakin
jelas dan bertambah jelas.
Ia memanggil-manggil namaku berulang kali, “Michelle. Michelle.., can
you hear me? Michelle, kumohon
sadarlah..,” suara merdu Ben terdengar sangat khawatir dan sedih menggema di telingaku memecah
sepotong mimpi buruk yang tak kumengerti.
Aku memegangi kepalaku yang masih
terasa pusing, kulihat Ben Johnson sudah bersamaku. Wajahnya tampak lebih pucat
ketimbang aku.
“Oh, Michelle, syukurlah kau sadar. Aku sangat khawatir, kau tahu?”
katanya dengan suara sedikit gemetar, tangannya yang dingin seperti gumpalan darah yang
membeku menggengam tanganku, kurasakan tubuhnya meraih
tubuhku—merangkulku. Mungkin aku cenayang, tapi aku masih sangat bingung dengan keadaan ini.
“Syukurlah kau sadar, sejak tadi Ben menjagamu disini. Dia yang membawamu
ke mari saat kau pingsan dikelas tadi,” kata Becca padaku. Kulihat
wajahnya juga tampak mencemaskan aku.
“Aku tidak apa-apa, mungkin terlalu lelah,” erangku sambil memegangi
kepala.
“Sungguh?” tanya Ben masih khawatir. Kali ini aku sedikit peduli padanya,
mungkin karena ia sempat hadir dalam
mimpiku tadi dan mencoba menyelamatkan aku—meski aku tak tahu maksud dari mimpi
burukku.
Aku mengangguk, lalu Ben memberiku segelas air putih dan aku meminumnya
tanpa berpikir buruk lagi tentangnya.
“Aku merasa baik. Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Kita akan bicarakan ini
nanti.” Isyaratku padanya, dan ia mengerti.
“Baiklah, aku harus pergi sekarang. Ben, tolong jaga Michelle baik-baik!
Aku serahkan kepadamu.” Becca berusaha mengerti,
walau mungkin ia merasa sedikit tidak enak hati
karena meninggalkan kami berdua.
“Thanks..” ucapku pada Becca. Kini ia telah
meninggalkan kami berdua—Ben masih menatapku dengan tatapan yang sedih. Jalan
pikirannya sulit untuk kubaca, pikirannya terlalu kaca. Sekali lagi aku menekankan pada diriku
sendiri bahwa ia sedang memikul beban pikiran yang berat dan terlalu lama.
Ini lebih seperti terjaga dari hempasan mimpi buruk yang berulang kali
terjadi, mimpi buruk yang seolah membawaku pada dimensi waktu yang berbeda. Entahlah, aku kelewat lelah untuk
memikirkan ini berlaru-larut.
Ben membantuku
berjalan hingga kami memasuki mobil Volvo hitam metalic miliknya. Aku
duduk didepan, disamping Ben. Ia mengatur suhu AC mobil agak tak terlalu
dingin.
“Apa yang sedang kau pikirkan, Ben?” kataku mencoba mengawali pembicaraan
kami ketika kulihat raut wajahnya sedang bersedih.
“Bukankah kau punya kelebihan itu?” singgungnya lagi-lagi.
“Ya,” akuku. “Tak ada yang bisa kubaca darimu saat ini. Ini sulit,
pikiranmu sedang kacau dan memikirkan hal-hal yang menurutku konyol,” kataku
akhirnya.
“Oh, Michelle… Tolonglah ini sulit bagiku untuk mengatakan,” rintihnya
padaku. Kurasa ia tampak lebih kurang bersemangat saat ini
dari pada aku.
“Sorry, aku tak bermaksud membuatmu begini. Sudahlah!” hempasku
sambil memegangi kepalaku.
Perjalanan menuju rumah terasa lebih lama dari yang kuduga. Aku memandang
keluar jendela yang berembun untuk mengalihkan kecemasanku setelah aku berusaha
memaksa Ben untuk menceritakan isi hatinya. Aku memang payah, tak semestinya
aku memaksanya begitu. Jika aku tahu ia tidak menyukai caraku, bukankah aku
bisa menunggunya nanti setelah suasana hatinya tenang. Tapi ia tampak diam,
ingin rasanya aku berteriak pada Ben; siapa dia sebenarnya? Dan apa yang sedang
ia cari? Namun, tidak mungkin kurasa untuk saat ini.
Biarlah. Aku berusaha untuk tetap tenang, memandang pepohonan besar diluar
jendela. Membiarkan diriku larut dalam
lamunan.
“Apa kau ada acara malam ini?” tanya Ben akhirnya-saat kami telah sampai dirumah.
“Tidak ada, mungkin memasak atau mengerjakan tugas akhir pekan,” jawabku
santai.
“Jika kau sudah merasa lebih baik,
bolehkah aku mampir kerumahmu nanti malam?” kata Ben sedikit menundukkan wajah,
mungkin ia malu. Aku tak menduga, suasana hatinya cepat sekali berubah.
“Tentu. Apa akan ada makan malam?” candaku
berusaha mencairkan suasana. Ia tersenyum, sedangkan aku merasa sedikit
lega—berharap ia tak terlihat sedih lagi. Melihatnya tersenyum aku pun ikut
tersenyum.
“Senyummu sungguh indah, Michelle. Di dalam pikirku, kau lebih terlihat
menawan,” godanya padaku membuat wajahku memerah, tersipu.
“Aku rasa sudah cukup, kau harus pulang sekarang. Ibumu pasti
mengkhawatirkanmu.”
“Baiklah,” ia tertawa.
“Thanks, karena kau telah membantuku hari ini,” aku menutup pintu
mobilnya. Ben mengangguk, dan aku membiarkan mobilnya melaju menjauhi tempatku
berdiri.
Hujan telah reda, menebarkan semerbak aroma
basah. Aku membuka pintu rumah yang terkunci. Kulihat Orion telah menyambutku
di depan pintu dengan keluhan kecilnya, ia mengendus-endus jariku dan
menjilatinya. Mungkin ia lapar karena seharian ia kutinggal pergi, pikirku.
“Hei,
sayang. Mana Lory, Catty, Pinny dan yang lain?” aku menanyakan saudara Orion
pada Orion seakan Orion dapat mengerti apa maksudku. Aku menggendong kucing
berwarna hitam pekat itu. Aku mempunyai tujuh ekor kucing peliharaan dirumah
tua ini; yang paling cantik si kucing persia kuberi nama Lory, si cantik dari
Irlandia Catty, si kecil Pinny, Lui, dan Mily anak hasil perkawinan silang
antara Lory dan Orion si kucing lokal Amerika. Aku menyayangi mereka seperti
keluarga kecilku. Karena hanya mereka yang selalu menemaniku dirumah tua ini.
Sebelum mandi, aku menyediakan
makanan untuk Orion, Lory, Catty, Pinny, Lui dan Mily. Aku menyediakan fish
cat untuk mereka. Merasa terhibur setiap kali melihat mereka makan
bergerumul.
Saat mandi, aku mulai memikirkan Ben lagi. Entah mengapa dua hari ini
selalu terlintas di benakku tentangnya? Semua hal yang kualami belakangan ini
membuatku bingung. Semuanya terjadi bersamaan seiring dengan hadirnya seorang
Ben Johnson dalam hidupku.
Air hangat berhasil membuatku merasa lebih relax. Aku menyisir
rambutku yang panjangnya lurus hingga sebahu di depan cermin, ini kali
pertamanya aku makan malam dengan seorang pria. Aku menertawai diriku sendiri
di depan cermin, aku merasa diriku sangat lucu karena sedang bertanya-tanya
pada diri sendiri; apa aku sedang jatuh cinta? Entahlah.
Aku mengenakan gaun warna putih dengan bahu terbuka, tapi aku akan
menutupnya dengan sweater pendek warna putih juga. Dan tak lupa high heel
milikku—well sebenarnya bukan milikku sepenuhnya. High heel putih ini
sepeninggalan Sarah saat ia masih remaja. Sarrah selalu menginginkan aku dapat
tumbuh menjadi seorang gadis feminin dewasa, karena menurutnya itu mencerminkan
identitas sejati seorang wanita dimata seorang pria—jadi aku menyimpannya dengan
baik di lemari sepatu.
Pukul tujuh lebih dua puluh lima detik, aku membuka tirai jendela kamarku.
Ben sudah menunggu di depan rumah. Ia sedang berdiri di dekat mobilnya,
mesinnya mati. Ia melempar senyuman padaku, ia tahu aku sedang memerhatikan gerak-geriknya
dari sini.
Aku segera melangkah menuruni
tangga dari kamar menuju lantai bawah. Orion menghampiri langkahku lagi, ia
mendongakkan wajah lucunya padaku. Aku meraih tubuh kecilnya, kubawa ia hingga
menuju teras ketika Ben sedang menantiku. Ia mengenakan tuksedo hitam,
rambutnya tampak tersisir rapi.
“Michelle, apa binatang berbulu itu milikmu?” tanya Ben, wajahnya tampak
aneh ketika melihat Orion dipelukanku.
“Ya. Apa kau alergi terhadap kucing?”
“Tidak begitu suka, tapi ia tampak manis. Apa kau memberinya nama?” tanya
Ben lebih lanjut, ia mencoba menyentuh Orion dan menggendongnya.
“Orion,” jawabku.
“Orion?” Ucapnya. Berapa kali aku harus mengulang? Kata-kataku mungkin
terdengar kecil ditelinganya.
“Ya, Orion. Tampaknya Orion mulai menyukaimu Ben,” kataku ketika Orion
terlihat nyaman di belaian Ben.
“Ya, kurasa begitu.”
“Baiklah, sudah saatnya kau harus menjaga anak-anakmu, Orion,” aku meraih
tubuh Orion dari belaian Ben.
“Sayang sekali kita harus berpisah dulu ya Orion,” kata Ben pada Orion.
Aku segera memasukkan Orion kedalam rumah, seperti biasa aku mengunci
pintu dan menutup tirai semua jendela.
“Malam ini kau tampak lebih cantik dari biasanya, Michelle,” Ben memuji
lagi saat ia membukakan pintu mobilnya untukku. Aku membalasnya dengan senyuman
kecil.
Ben mengatur suhu AC seperti yang dilakukannya seperti tadi, namun kali
ini ia mencoba memutar tembang lawas milik Barry Manilow dengan judul lagunya yang masih kuingat Can’t
Smile Without You.
Aku melihatnya tersenyum, hingga membuatku heran melihatnya sering kelewat
senyum—apa dia gila? Aku menertawai dirinya diam-diam. Akhirnya ia merasa
dirinya sedang ditertawakan.
“Sepertinya kau sedang menertawakan aku ya?”
“Ya..,” aku masih tertawa.
“Aku tahu, pasti karena kau menganggapku gila,” cetusnya.
“Kau tahu?” tanyaku.
“Aku hanya menebak. Tenanglah, itu bukan keahlianku”
Dia selalu bisa membuatku terpesona dengan setiap kata yang ia ucapkan,
sadarkah ia? Aroma tubuhnya sangat khas dan manis, aku suka itu. Oh, Tuhan
kurasa akulah yang pantas disebut sebagai orang gila saat ini, entahlah.
“Rencana A, kita akan makan malam terlebih dulu. Rencana B, aku akan
menunjukkanmu sesuatu, dan aku berharap kau bisa menerimanya, ” terang
Ben, aku tak mengerti tapi aku berusaha memahaminya.
“Menerima?”
“Ya, menerima”
“Menerima apa?” tanyaku penasaran. Aku menatapnya sejenak. Lalu aku
mengalihkan pandanganku ke luar jendela--kebiasaanku.
“Semua akan baik-baik saja, tenanglah Michelle. Aku berjanji akan
menjagamu,” kata Ben mendalam, mencoba meyakinkan aku. Sejenak ia menatapku,
lalu ia memalingkan wajahnya dan terlihat kesal dengan dirinya sendiri.
“Aku percaya padamu,” kataku sambil membalas tatapannya. Ia tersenyum
lagi. Aku merasa sungguh gila dapat secepat itu memercayai orang yang baru saja
kukenal. Konyol. Tapi hanya itu yang dapat aku lakukan saat ini, setelah mimpi
buruk saat di ruang UKS kampus itu aku sadar jika keselamatanku sedang
terancam.
Selama dalam sisa perjalanan kami membisu. Aku bisa merasakan yang ada
dalam pikirnya tentang kekhawatiran, kegundahan sekaligus kemarahan di dalam
dirinya, aku bingung harus mengatakan apa.
Kemudian pepohonan kelam tak terlihat lagi, berganti gemerlap lampu malam
kota La Nouvelle-Orléans. Hingga perjalanan berakhir di sebuah restoran mewah bergaya arsitektur
Eropa. Ben memilih restoran Perancis, dan memarkirkan mobilnya di parkiran yang
terletak di sudut kiri restoran.
Ben membukakan pintu mobilnya untukku dengan sangat pelan dan sopan, ia
menyambut dan mencium tangan kananku. Ia tersenyum, seperti biasa ia mudah
sekali mengubah suasana hatinya dalam hitungan menit. Dan aku harus
mengatakannya sekali lagi, malam ini ia sangat dan sangat tampan.
Ben segera memilih tempat duduk untuk kami berdua. Akhirnya kami duduk di
sudut kanan, taplak meja berwarna putih dan di dekat meja terdapat kaca bening
yang dihiasi oleh gemercik aliran air. Terdengar alunan instrument musik yang
terasa merdu dan menggugah rasa.
Kemudian seorang pelayan laki-laki bertuguh tegap menghampiri kami, ia
menawarkan beberapa menu special dalam bahasa Perancis. Tapi aku bilang pada
Ben, sebaiknya memesan makanan yang biasa saja. Ben menyetujuinya, ia memesan
dua porsi steak, caviar, sepiring salad dengan
bermacam sayur yang aku kurang tahu detailnya sayur apa saja, beserta
sekeranjang kecil roti Perancis, aku
menambahkan secangkir milk cappucino kesukaanku. Itu saja.
“Merci beaucoup..,” kata Ben berterima kasih pada pelayan itu dalam
bahasa Perancis.
“Apa kau sering datang ketempat ini?” tanyaku.
“Ini restoran favorite keluarga
kami,” jawabnya.
“Wow..” keterkejutanku terdengar geli. “Sepertinya keluargamu memiliki
selera makan yang tinggi,” kataku
bermaksud ingin membuat suasana menjadi hangat.
“Tidak, hanya sesekali kami kemari,” tanggapnya biasa saja. Ben
memandangku.
Tak lama pelayan laki-laki berambut coklat pirang datang membawakan
pesanan kami. Ia menaruhnya satu persatu sambil melihat kearahku sebentar. Aku
mencoba tersenyum ramah padanya.
“Ia terpesona padamu, sepertinya,” kata Ben.
“Benarkah?” kataku. Aku tersenyum, ia menundukkan wajahnya lalu menatapku
lagi.
“Vous êtes belle ce soir,.” puji Ben untuk
kesekian kalinya pada malam ini.
“Merci beaucoup. Tapi kau telah mengulangi kata itu lebih dari satu
kali malam ini, Ben.” Aku tertawa menatap wajah tampannya yang sungguh
memesona, hingga tak membuatku bosan.
Rasa kesal terhadapnya saat pertama kali mengenalnya luntur hanya dalam waktu
singkat pada malam ini.
Lalu Ben tergelak. “Really?” tanyanya.
“Ya. Kalau begitu makanlah,” perintahku. Ia tampak lebih manis ketika menurut.
Aku memotong steak-ku dan memakannya. Aku benar-benar menikmatinya,
mengunyahnya pelan-pelan—seperti layaknya seorang gadis ‘sungguhan’. Karena
percayalah dulu aku sangat tomboy dan cuek. Lagi pula aku tidak pernah
merasakan makan malam dengan seorang pria, bahkan dengan suasana senikmat ini.
Karena memang tidak ada orang special dalam hidupku, kosong. Maksudku, ini memang untuk yang
pertama kalinya.
Selesai makan steak, aku menyeruput milk cappucino-hangatku
perlahan. Ku cium aromanya. Harum, manis, nikmat aroma kopi dan susu
kesukaanku.
“Kau penikmat kopi juga rupanya, Michelle..”
Aku mengangguk. “Aroma kentalnya membuatku ingat pada Sarah..”
“Sarah?” tanya Ben penasaran.
“Ibuku. Tapi ia sudah lama pergi, ia kecelakaan mobil saat hendak
menjemputku di sekolah, nyawanya tak tertolong dan meninggal dalam perjalanan
menuju rumah sakit,” ceritaku.
“Maaf..,” kata Ben menyesal.
“It’s okay. Aku telah biasa,” aku mencoba tegar saat ia memandangku
dengan wajah sedih. Aku tak ingin meneruskannya, aku jengkel bila harus
berlama-lama mengenang masa sulit.
Waktu makan malam telah usai. Ben yang membayar semua tagihan, meski ia
tidak menyentuh makanannya sama sekali. Walau demikian ia cukup menghibur.
Aku duduk manis di dekatnya saat mobil akan meluncur dan segera
meninggalkan pelataran parkir di restoran. Bertanya-tanya pada diri sendri apa
yang akan terjadi setelah ini? Aku memandang Ben sejenak, ia tersenyum lagi.
“Setelah ini kita akan pergi kemana?” tanyaku.
“Kerumahku,” jawab Ben, aku menelan ludah.
“Kerumahmu? Tidak tanpa persetujuanku,” bantahku.
“Sudah aku katakan padamu tadi bahwa kau harus ‘menerima’. Aku janji ini
akan berlangsung baik, aku akan mengatakan hal yang ‘sangat penting’ dalam
hidupku, dan aku akan menjagamu Michelle..!” Ben terdengar sedikit memaksa. Aku
tak bisa berbuat banyak, kecuali menunggu apa yang akan terjadi setelah aku
berdiam disini tanpa berkutik—jika nanti semua kegalauanku akan terjawab, aku
bersyukur. Ya, setidaknya itu yang kuinginkan untuk saat ini.
Aku membiarkan Ben membawa Volvo hitam-methalic-nya melaju lancar hingga
memasuki St. Rairoad Aveneu.
Wajahnya tampak tenang. Aku tak hentinya memikirkan hal-hal apa saja yang akan
aku lakukan nantinya, atau setidaknya aku harus bersikap bagaimana ketika aku
menghadapi keluarga Ben nanti.
Aku mulai gugup saat mobil Ben memasuki sebuah pelataran kosong yang
disekitarnya di tumbuhi rerumputan hijau dan bunga taman yang indah. Aku
melihat rumah elegant bercat putih, sambil menunggu Ben menuntun langkahku menuju rumah itu. Di
dekat pintu rumah tampak papan yang tertulis ‘Kediaman Keluarga Johnson’.
Ben membuka pintu rumahnya, seluruh anggota keluarganya menyambutku dengan
wajah gembira. Tak menyangka. Apakah keluarganya memang seramah ini dengan
orang asing? Setidaknya seperti aku.
“Selamat datang..,” kata seorang pria berkulit putih—berambut pirang yang
tersisir rapi. Cukup tampan dan muda, namun tampak lebih dewasa. Kata Ben ia
adalah Ethan Johnson, ayahnya. Pikirku, Ethan Johnson terlalu muda untuk
menjadi seorang ayah dengan seluruh anaknya yang tampaknya terlihat dewasa pada
umumnya.
“Terimakasih..,” kataku padanya. Ia lalu tersenyum hangat dan ramah.
“Terimakasih kembali, Michelle. Kami telah mendengar tentangmu dari Ben,”
sahut seorang perempuan cantik dan keibuan. Rambutnya ikal di bagian ujungnya.
Aku tersenyum malu. Ia lalu memperkenalkan diri, ia adalah ibu dari Ben dan
saudara-saudaranya di rumah ini. Namanya Emily.
“Dan..kami senang kau datang,” sahut gadis
cantik—sangat cantik hingga membuatku sedikit iri.
“Ini Catherina, adik perempuanku,” kata Ben memperkenalkan Catherina
padaku. “Dan yang itu adalah Damon dan kekasihnya, Gloria,” lanjut Ben menunjuk
ke arah Damon dan Gloria, dua orang yang pernah ku lihat tepat di gerbang
kampus kemarin. Dua pasang mata yang seakan ingin menerkam. Setelah kuamati
mereka semua berwajah seputih porselen.
Aku mencoba tersenyum ramah pada mereka, tapi mereka tak membalas. Tatapan
mereka dingin, aku menundukkan wajah. Namun, Catherina mencoba meraih tanganku,
membawaku menuju ruang keluarga bersama Ethan dan Emily, meninggalkan Damon dan
Gloria. Catherina sangat ramah, menghiburku dengan leluconnya. Aku merasa
nyaman di dekatnya meski baru saja berkenalan. Dan—well, namanya seperti nama
belakang Sarah.
Pandanganku tertuju pada sebuah lukisan cat minyak berbingkai kayu
berwarna emas, Napoleon Bonaparte—Pencetus kode
Napoleon pada revolusi Prancis antara tahun 1715-1718. Lukisannya sangat indah
dan berukuran jumbo dengan bingkai kayu mahoni terpajang di ruang tengah. Ku sentuh cat minyak pada canvasnya, tebal
dan aroma catnya masih seperti baru. Tanggal pembuatan lukisan tertulis pada
sudut kanan bawah tahun 1716. Yang entah bagaimana mereka merawatnya sehingga
masih terlihat sangat indah dan sedemikian rupa masih terlihat baru. Sungguh
menarik bisa menyimpan lukisan tua hingga selama ini.
“Rupanya kau juga pecinta seni ya, Michelle?” sela Ethan, ia masih
menyunggingkan sepucuk senyum ramah. Wajahnya sama memikatnya seperti Ben.
“Lukisan ini sangat indah,” kataku mengagumi, menyentuh setiap detailnya.
“Ben juga pecinta seni, kau tahu?” sahut Catherina. “Ia memiliki cita rasa seni yang
tinggi,” lanjutnya lagi. Ben
tertawa geli.
“Tidak Cathy, jangan..” Ben mengelak malu.
“Oh, ya?” tanyaku penasaran.
“Ya, saat SMA ia pernah menjuarai sebuah lomba menulis puisi dan melukis,”
kata Catherina semakin bersemangat. Aku tertawa, kulihat wajah Ben merona.
“Baiklah, Catherine. Kita harus meninggalkan mereka sekarang,” Emily
memotong pembicaraan kami. Ia tersenyum padaku dan Ben.
“Ok, Michelle. Nanti kita akan bicara lagi..,” ucap Catherina padaku.
Kemudian, mereka bertiga meninggalkan kami berdua. Ben duduk disampingku,
wajahnya terlihat ceria saat ini. Ia tersenyum manis, nikmat—memesonaku.
“Damon dan Gloria,” selaku.
“Ya?” Ben menyahut.
“Mereka itu yang pernah aku lihat di gerbang kampus bersamamu, bukan?”
tanyaku dengan tatapan curiga padanya.
“Apa kau sedang menyalahkan aku, Michelle?” tanya Ben.
“Tidak, Ben. Jika benar orang yang aku lihat bersamamu tempo hari itu
adalah Damon dan Gloria, lalu apa masalahmu sehingga kau menyangkal kesaksianku
saat itu?” kataku seakan berlomba dengan napasku, mengingat hal yang menurut
Becca semua itu adalah daya imajinasiku yang
terlalu tinggi.
“Kau tidak mengerti akar
permasalahannya, Michelle..,” timpalnya dengan sedih.
“Ya. Kau mungkin benar, aku tidak tahu apa masalahmu,” suaraku merendah.
Mencoba memahami kemelut yang bergejolak dalam batinnya. Meski demikian, yang
ada dibatinnya hanya kesedihan serta kekhawatiran terhadapku.
Ia lalu memandangku, wajahnya amat sedih dari yang sebelumnya kulihat.
Tangannya yang halus dan dingin menyentuh pipiku. “Sekarang apa kau percaya
padaku, Michelle?” tanyanya penuh asa.
Aku tak kuasa menahan segumpal rasa kagum dari dalam jiwaku ketika menatap
dua bola matanya yang bersinar bagai berlian, namun sedikit redup karena kabut
yang menyelimutinya. Aku hanya mengangguk, menurutinya. Meski aku tak tahu
kekhawatiran macam apa yang dirasakannya.
“Aku berjanji akan menjagamu dengan hidupku..,” ucapnya mencoba
meyakinkanku.
Sedangkan di sudut pintu aku melihat Gloria, tatapannya penuh amarah—ia
menujukan tatapan itu padaku. Ia sedang memegang segelas anggur hitam, lalu ia
pecahkan dihadapan kami.
Matanya memerah kehitaman, ia menjerit lantang sambil berjalan
kearahku—sangat keras hingga membuatku sulit bernapas. Namun, Ben menepis
tangan kiri Gloria yang nyaris saja menghantam wajahku. Mataku terbelalak—tak percaya, Ben mendorong tubuh Gloria hingga terpental jauh mengenai
dinding. Dinding itu mungkin saja akan retak atau paling tidak Gloria akan
terluka jika Damon tak dengan cepat menagkap tubuh Gloria. Entah sejak kapan
Damon berada disana, gerakannya sangat cepat. Aku pun tak bisa menangkap
kesimpulan sendiri kekuatan apa yang mereka miliki. Well, kurasa
kesimpulan yang sangat tidak masuk akal.
Ethan, Emily dan Catherina kemudian datang melihat apa yang sedang
terjadi. Mereka lalu membawa Gloria menjauh dari kami. Sedangkan Ben masih
menenangkan aku dengan menggenggam tanganku. Aku tak mengerti, tapi aku rasa
cahaya yang terpancar dari dua pasang bola mata Gloria dan Damon seperti
menyimpan selaksa dendam terhadap…aku—barangkali. Tapi, mengapa?
Aku shock, sangat. Tak bisa berkata apa pun lagi. Ben mencoba
menenangkan aku dengan membawaku ke atas, ke kamarnya. Bulu romaku berdiri, tak
memercayai hal gila ini. Tapi, mau apa
lagi? Memang itulah yang terjadi. Kini aku yang bertanya-tanya dalam hati,
menerka sambil menertawai diri sendiri dalam hati; mungkin aku sedang berada
dikandang macan saat ini. Satu macan jinak, sedangkan dua macan lagi ingin
menghabisiku dengan taringnya.
“Maaf dengan apa yang telah kau lihat tadi,” gumamnya, suaranya sangat pelan
dan menyesal. Aku terdiam, tubuhku masih gemetar. Ia menatapku, wajah kami
bertemu sejajar. “Aku telah berjanji..,” ujarnya semakin dalam ketika melihatku
meneteskan air mata karena rasa takutku yang sekonyong-konyong menyelinap masuk
dalam jiwaku. “Dengarkan aku, aku bersumpah akan melindungimu. Tidak
akan ada yang bisa menyakitimu..,” katanya.
Aku hanya mengangguk, tak mengerti. Tapi tak banyak yang dapat kuperbuat
akhirnya aku hanya bisa pasrah dan menyerahkan masalah ini padanya—karena yakin
memang terdapat masalah.
Ia berusaha menghapus tetesan-tetesan kecil di pipiku dengan sapu tangan
miliknya. Sapu tangannya tercium aroma menenangkan olehku. Sangat nyaman ketika
ia mengusap-usap selembar kain putih itu di pipiku, hingga aku ingin memejamkan
mataku yang lelah di pundaknya.
Aku menunduk menatap tangannya, ia menggerak-gerakkan tangannya yang
berkilauan dengan lembut diatas telapak tanganku.
“Sungguh, aku tak ‘kan sanggup lagi melihat air matamu, Michelle,”
bisiknya.
“Kau pasti tahu permasalahannya, Ben!” erangku. “Apa yang sesungguhnya
ingin kau tunjukkan padaku?” tanyaku tak sabar, kesal.
Kemudian Ben menuntunku ke sebuah ruangan bawah tanah yang berada tepat di
bawah kamarnya. Tempat itu amat usang, aku mencium bau debu di sela-sela benda sekitar ruangan.
Ben menyalakan lentera, sinarnya kuning
keemasan. Ia menunjukkan sebuah lukisan lawas, lukisan seorang wanita muda dan
cantik berpakaian bangsawan abad ke-17. Tahun pembuatan
yang kulihat pada lukisan, 1797.
Aku menatap lukisan itu cukup lama.
Setelah kuamati baik-baik, wajahnya sangat mirip denganku. Hanya saja, warna
rambutnya coklat keemasan dan ikal diujungnya. Aku teringat, wanita yang ada
pada lukisan ini adalah wanita yang pernah muncul dalam mimpiku beberapa kali.
Ben melihatku tampak sangat kebingungan. Tangannya yang dingin menyentuh
pergelangan tanganku. “Namanya adalah Elizabeth. Elizabeth Morgan.,” katanya semakin menatapku.
“Elizabeth Morgan?” tanyaku. Aku membiarkannya masih menggengam
pergelangan tanganku.
“Elizabeth meninggal tahun 1799, setahun setelah kami bertunangan—dan
tanpa sepengatahuan orangtua Eliza, alasannya karena orangtuanya melarang kami
berhubungan.” Cahaya yang mengenai wajah Ben meredup, menyelinapkan sudut-sudut
kesedihan yang purba.
“Bisakah kau jelaskan mengapa ia meninggal, Ben?” tanyaku menyela.
Wajahnya makin sedih. Suasana kurasa makin senyap.
“Cinta kami hancur saat Arnold Paole hadir, ia jatuh cinta pada Eliza dan
menculiknya. Ia membawa Eliza masuk kedalam istananya, sehingga terlambat
bagiku untuk menyelamatkannya. Ia bunuh diri setelah disekap dalam sebuah kastil tua. Lalu aku bertemu dengan Ethan Johnson dan istrinya Emily,
mereka mengadopsiku. Hingga aku bertemu dengan Catherina, Damon dan Gloria
tahun 1798,” kisah Ben padaku. Aku semakin takut, kesal, marah, sedih semuanya
membaur menjadi satu—aku tak mampu mengelak.
“Siapa itu Arnold Paole?” tanyaku dengan suara gemetar.
“Dia adalah seorang dari bangsa vampir saat masa Kekaisaran Austria. Ia
pergi dari segala penjuru dunia mencari wanita yang ia anggap cocok untuk mendampinginya,” jawab Ben membuatku ngeri. Aku mengernyitkan kening, mencoba
berpikir tentang ini.
“Tapi itu hanya sebuah legenda. Aku tidak bisa memercayai hal ini,”
kataku, kesal.
“Itulah yang terjadi, Michelle..,” erangnya. “Tak mudah bagiku untuk
melupakan semua itu dalam hidupku setelah kulalui bertahun-tahun, namun tak
mudah juga untukku mengingatnya. Wajahmu sangat mirip dengannya, sikapmu, aroma
tubuhmu, semua bunga yang kau suka.., aku sangat mengingatnya,” ucapnya sambil
memejamkan kedua matanya, lalu membukanya kembali—penuh penhayatan saat ia
melakukannya. Aku menatap matanya, kupahami bagaimana perasaan yang ia pendam
selama tiga ratus tahun yang ia lalui.
“Oh, Ben. Maafkan aku,” pintaku menyesal. “Harus kuakui ketakutanku saat
ini,” aku mengakuinya, dan pikiran konyolku tak dapat kutepis bahwa aku ingin
segera pergi dari tempat ini.
“Karena itu aku mencarimu,” ulangnya lagi. “Karena aku tidak akan
membiarkan dia menyentuhmu sedikit pun,” ucap Ben terdengar seperti dendam
dalam hatinya. Aku sedikit kecewa padanya. Sulit kupercaya ini. Sangat.
“Apakah kau salah satu dari bangsa mereka?” tanyaku terbata. Ben menunduk, mengerutkan kening. Aku merasa sedikit
bersalah atas pertanyaanku. Namun, tak ada pilihan lain bagiku.
“Ya,” timpalnya sedih. “Aku dan keluarga Johnson adalah bagian dari mereka.
Namun, kami berusaha untuk tidak menjadi anak Iblis dengan membunuh atau
mengganggu bangsa manusia,” katanya menjelaskan perlahan.
“Apa? Kenapa?” tanyaku terdengar lebih seperti introgasi.
“Karena kami tidak ingin memperburuk takdir kami dengan membunuh manusia
yang tak berdosa,” ucapnya sedih.
“Aku tidak percaya ini!” ucapku setengah berteriak.
“Percayalah, Michelle. Kau tidak perlu meragukan diriku, atau menghindar dari semua ini.
Kau-lah reinkarnasi dari jiwa Elizabeth. Inilah yang kumaksud bahwa kau harus menerimanya,”
tekannya meyakinkan aku sambil meraih kedua tanganku dan menciumnya.
“Tapi, aku takut..,” kataku masih dengan suara gemetar.
Ben menarik tubuhku dengan lembut, mendekatkan wajahku di wajahnya.
“Kau tidak perlu takut, Michelle. Aku telah bersumpah untuk
melindungimu, aku pun bersumpah tidak akan menyakitimu,” katanya. Tak banyak
yang bisa aku lakukan, aku hanya seorang gadis kerdil yang menangguh hidup
sendiri di kota kecil ini. Dan kini hidupku berubah drastis setelah bertemu
dengan makhluk yang sosoknya nyaris menyerupai dewa ini.
“Iya. Aku percaya padamu,” kataku akhirnya setelah aku
bergelut dengan kegalauan dalam benakku sejenak, dengan diriku, dengan
kenyataan yang ada. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil menitikkan air
mata yang sejak tadi tak kuasa kutahan. Sekali lagi Ben mengusapkan jemarinya
yang indah di pipi dan kelopak bawah mataku yang basah—hingga mascara yang
kupakai melebur jatuh dibawahnya.
Ben membawaku kembali kerumah setelah aku merasa sedikit
tenang. Sepanjang jalan kuhabiskan waktuku untuk melamun, Ben membiarkan aku
menatap keluar jendela mobilnya. Meski begitu aku amat sangat sadar apa yang
terjadi dengan diri dan jiwaku saat ini.
Kali keduanya Ben
membantuku berjalan memasuki rumah. Ku berikan kunci rumah padanya, dan ia
membukakan pintu untuk kami masuk. Ia membawaku hingga kamar dan membaringkan
tubuhku.
“Temani aku sejenak, ceritakan riwayat hidupmu dulu
padaku,” pintaku sambil menarik pergelangan tangannya. “Dengan lengkap
tentunya,” tambahku. Walau kulihat di wajahnya sedikit berat, tapi ia menerima
pintaku dengan senang hati, setidaknya itu tampak ketika ia tersenyum.
“Baiklah. Apa yang ingin kau ketahui lagi dariku?” Ben
duduk disamping pembaringanku.
Aku terkesiap, kemudian duduk sejajar dengannya.
Meletakkan dua telapak tanganku di atas paha, bersiap menyimak kisahnya. Kini
aku tak merasa takut lagi, walau sedikit konyol tapi harus kuakui makhluk indah
ini telah membuatku percaya padanya—seperti sihir.
“Kau suka musik 70-an? Atau delapan puluhan mungkin?”
tanyaku akhirnya.
“Ya, termasuk sastra yang mulai lahir pada era Elizabethan
atau Abad Pertengahan. Di era ini literature berkembang pesat, khususnya dalam
bidang drama,” Ben membuka ceritanya.
“Elizabethan..,”
kataku terpukau dan menatapnya seperti seorang anak TK yang polos, aku
menatapnya dalam-dalam—melipat tangan dan bersiap menyimak cerita Ben Johnson.
“Ketika Renaissance Italia telah menemukan kembali
Romawi kuno Yunani dan teater, hal ini berperan penting dalam perkembangan
drama baru yang kemudian mulai berkembang terpisah dari misteri lama dan
memainkan keajaiban dari Abad Pertengahan. Kau tahu, orang-orang Itali sangat
terinspirasi oleh seorang penulis drama tragis besar dan filsuf bernama Seneca,
dan Plautus seorang penulis komik klise,” kata Ben membuatku terpana dengan
pesona matanya—juga semua yang dapat kulihat dengan jelas diwajah tampannya
yang sungguh memikat.
“Lalu, apakah sastra yang dikembangkan oleh orang-orang
Italia ini berjalan baik?” tanyaku.
“Tidak juga.
Ternyata tragedi Italia menganut prinsip yang bertentangan dengan etika Seneca,
drama mereka menampilkan darah dan kekerasan diatas panggung. Namun, seorang
dramawan Inggris Giovanni Florio tertarik pada aliran ini,” katanya sambil tersenyum
menatapku. “Aku dan Eliza pengagum drama, sastra dan musik klasik. Kami
mengagumi William Shakespeare, ia penyair dan dramawan yang tak tertandingi
pada era itu. Menurut sebuah surat kabar yang kubaca ketika itu, pada masa pemerintahan James I ia telah sukses menulis karya-karyanya yang diantaranya; Hamlet, Romeo dan
Juliet, Othello, King Lear, Macbeth, Anthonius dan Cleopatra. Kemudian The Tempest, sebuah tragikomedi yang
menggabungkan drama utama kontes brilian persembahan kepada raja yang baru,”
Ben menghela napas sejenak, mengatur frekuensi suaranya. Aku hanya menyimak dengan
baik celotehannya, wawasannya cukup luas tentang dunia sastra.
Meski akhirnya aku merasa sedikit agak aneh karena ceritanya melantur dari yang ingin aku ketahui tentang
dirinya, well mungkin ini permulaannya.
“Drama cinta yang sangat fenomenal saat itu adalah Romeo
dan Julia,” lanjutnya. “Kami begitu mengagumi kisah mereka. Aku tak tahu apa yang terpikir dalam
benakku saat aku mendengar Eliza meninggal bunuh diri,” Ben menertawai dirinya
sendiri sambil melihat kearahku.
“Dan kau mencoba bunuh diri juga..,” tebakku seketika
saja. Berkata tanpa
berpikir lagi—kuanggap itu konyol.
“Ya, kau benar,” katanya masih tertawa. Seakan
menganggap ini lelucon baginya.
“Dan..?” tanyaku serius.
“Dan Ethan menemukan aku saat aku mencoba bunuh diri di sebuah tebing, tahun 1798. Ia sangat baik. Sedangkan aku lahir di London
tahun 1785, asal-usul keluargaku tak jelas—orangtuaku membuangku disebuah panti
asuhan. Sampai aku bertemu dan jatuh cinta pada seorang gadis bangsawan Inggris
seperti Eliza,” ia berhenti sejenak. Aku menunggu penjelasan berikutnya.
“Seperti yang telah kami duga, orangtua Eliza tidak
menyetujui hubungan kami karena status sosial kami berbeda—seperti yang telah
kukatakan tadi padamu. Tapi aku teramat dalam mencintainya hingga kami
bertunangan diam-diam. Seseorang telah berkhianat kepada kami dan melaporkan
hal ini pada ayahnya. Kemudian, kedua orangtua Eliza menjodohkannya dengan
seorang saudagar kaya dari Prancis. Namun, itu tak bertahan lama. Arnold Paole
telah menculik Eliza saat malam
pernikahan mereka. Dia membawanya, Eliza tak tahan dan menukarkan semua itu
dengan jiwanya—ia bunuh diri,” kata Ben sambil
merapatkan genggaman tangannya.
“Tidak, kupikir ia bukan bunuh diri.
Aku melihatnya, ia terpeleset di sebuah jurang ditepi laut dan jatuh,”
selaku tanpa ragu. Ben menatapku, heran.
“Kau berkata seakan kau pernah
melihatnya?” tanya Ben.
Aku memutar dua bola mataku. “Ya,
melihatnya dalam mimpiku,” jawabku
yakin. Lalu ia menunduk sedih.
Aku tak bisa berbuat banyak, hanya mengusap bahunya
sesekali—bermaksud sekadar meringankan kesedihannya.
“Bagaimana Ethan.., emm... maksudku bagaimana ia
menyelamatkanmu saat itu?”
“Itu sedikit sulit. Ia sangat baik. Sebagian dari kami
tidak semuanya dapat mengendalikan diri. Tapi diantara kami hanya Ethan Johnson
yang menjadi sangat manusiawi dan sangat penuh kasih diantara kami. Ia sangat
baik, bagi kami ia seorang guru—seperti
lebih dari sekadar kepala keluarga,” jelasnya. Aku mencoba mengerti dari mimik wajahnya, ia
tak ingin meneruskannya.
“Kita selalu tak pernah tahu apa yang akan terjadi
nantinya, kita cukup memikirkan hal-hal terbaik apa yang harus kita lakukan
esok hari dan selanjutnya. Well, hidup sangat tergantung pada takdir atau kita
yang akan menentukan takdir,” kataku. Ia menatapku, bahkan pikiranku sangat fokus terhadap
makhluk indah ini.
“Ya,” timpalnya. “Tapi kini seorang
makhluk tanpa jiwa sedang ada di hadapanmu..,” ucapnya menakutiku. Seakan ia
menyadari betul siapa dirinya sesungguhnya. Kemudian raut wajahnya kembali
bersedih.
“Apa kau merasa keberatan menjadi dirimu saat ini, setidaknya
sebelum atau sesudah kau bertemu dengan Ethan Johnson?” tanyaku.
Ia terdiam sejenak, menunduk lalu
mendongak ke langit-langit kamar dan menghela napas panjang. “Tidak. Ini
takdirku. Aku berpisah dengan Elizabeth, lalu bertemu dengan Ethan Johnson..,
itu semua takdir. Mungkin aku, atau Ethan adalah bagian dari bangsa vampir yang
tak memiliki jiwa. Namun, kurasa kami masih dikategorikan berperasaan seperti manusia
kebanyakan.” Ia tersenyum simpul, tapi yang kurasakan ia begitu sedih.
“Damon dan Gloria, apa kau mengenal
mereka dengan baik?”
“Damon, saat tahun 1760 ia mengalami hidup yang sangat berat,
orangtuanya bercerai dan menelantarkannya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan
kami tahun
1799—aku telah menganggapnya seperti adikku,”
jelasnya pelan.
“Sepertinya Gloria memiliki
kelebihan,” ucapku menyela pembicaraannya.
“Aku tahu kau bisa ‘membacanya’. Dia
memiliki kelebihan yang unik, jeritannya bisa memecah gendang telinga atau
dapat membuat paru-paru dan jantungmu pecah. Sedangkan Damon, tatapan matanya
bisa menghipnotis siapa saja,” jelasnya padaku. Aku terdiam sejenak. Lalu ia
meneruskan, “Dan.., Catherina dapat membaca pergerakan atau strategi lawan dari
jarak jauh maupun dekat.”
“Dan.., kau?” tanyaku tersenyum
menggodanya.
“Kelebihanku hanya sebatas dapat
melihat masa depan, tak lebih..,” ia merendah.
“Bukankah itu hebat?”
“Tidak. Itu hanya digunakan pada saat
terpenting saja, Michelle. Lagi pula sebuah gambaran masa depan tidak
diperbolehkan untuk ditunjukkan pada siapa pun, terlebih lagi pada manusia,”
katanya.
“Mengapa?” tanyaku, menatap wajahnya dengan
serius.
“Karena manusia tidak memiliki hak
serupa. Manusia tidak ditakdirkan untuk membaca masa depan, bila manusia dapat
meramalkan masa depan maka keseimbangan hidup akan terganggu. Itulah yang akan
terjadi,” tukasnya.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala
menyimak penjelasannya, hingga aku mampu membuatnya yakin bahwa aku telah
mengerti. Kami menghabiskan sisa malam dengan bercerita. Ben juga sempat
menceritakan masa kecilnya yang suram namun terdengar sangat klasik. Sesekali kami tertawa, terkadang aku
masih melihatnya menundukkan wajah dan menyembunyikan beban yang aku tak tahu
apa atau darimana beban itu.
Muncul keinginan dalam benakku untuk
membuatnya agar selalu merasa bahagia. Makhluk ini terlalu indah untuk
kuperlakukan apa adanya, terlalu memesona untuk tak memandangi wajahnya walau
hanya sekali, semenit, sedetik sekalipun. Aku tak kuasa menolak sikapnya yang hangat, penuh perhatian,
dan suaranya yang begitu memikat.
Aku mencoba menyandarkan tubuhku di
tumpukan bantal, ia berhasil membuatku merasa puas karena ceritanya. Ia
membelai lembut rambutku sambil menyanyikan sebuah tembang lawas enam puluhan
yang tak kuketahui jelas judul atau
penyanyinya. Katanya, lagu itu sangat di gemari anak remaja pada masa itu. Aku
terhanyut, suaranya yang begitu pelan mengantarku tidur. Menurutku ia lebih
pantas di sebut seorang ayah yang memiliki sifat keibuan. Well.., tapi
sesungguhnya aku merasa lebih baik untuk saat ini.
“Baiklah, kupikir cerita-cerita vampir itu hanyalah
mitologi atau kisah konyol belaka. Kau tahu, aku sedikit tak suka cerita ini..”
ucapku dengan nada jengkel—akhirnya.
Ben tertawa geli, aku tampak bodoh dibuatnya.
“Apa yang kau tertawakan?” kataku lebih jengkel. “Kau
tahu? Ibuku selalu menceritakan tentang vampir yang..., sedikit kuno. Vampir umumnya diceritakan keluar dari makamnya pada
malam hari untuk menggigit orang-orang dengan taringnya yang panjang dan
mengisap darah mereka. Dan..., korban yang digigitnya biasanya akan menjadi
vampir juga. Menurut beberapa mitos, vampir tidak tampak di cermin karena
mereka tidak memiliki jiwa. Dalam cerita fiksi modern, vampir bisa menjelma
menjadi kelelawar, serigala, bahkan gumpalan gas, dan harus menjauhkan diri
dari sinar matahari. Ini gila..”
“Tidak. Itu hanya.., legenda yang dibuat oleh orang Eropa. Vampir tak
menjelma menjadi kelelawar, serigala atau gumpalan gas,” jelasnya sambil
tertawa ringan. “Bangsa kami hanya, iblis..” tekannya sedih.
“Iblis?” Aku beranjak dari sandaranku dibahunya. Apakah ia mengucapkannya
dalam kondisi sadarkan diri? Gila.
“Ya,” jawabnya dengan sangat jelas—singkat. “Apa kau merasa takut?” tanya
Ben terdengar seperti menguji keyakinanku padanya.
“Tidak,” walaupun jawabanku yang sebenarnya adalah ‘iya’. “Jika denganmu..”
tambahku demi kulihat senyum di wajahnya.
“Lalu, apa kau meminum darah?” tanyaku mengulang pertanyaan yang telah aku
lontarkan dirumahnya tadi. Berusaha mengalihkan tapi tampak semakin terlihat
bodoh.
“Ya,” jawabnya.
“Darah manusia??” tanyaku tak sabar-penasaran.
“Ya,” jawabnya datar dan tersenyum.
Aku berkali-kali berkata dalam hati ‘ini gila, ini tak masuk akal’.
“Tapi.., kami keluarga Johnson, berusaha tak membunuh manusia. Bagi kami
itu sungguh tak lazim, dan tindakan terkutuk. Kami membeli dua puluh kantung
darah di rumah-rumah sakit tiap bulannya. Tapi, itu tak pasti. Kami harus
berpuasa tidak meminum darah selama satu atau dua bulan, dan menggantinya
dengan darah dan daging mentah hewan yang masih segar,” jelasnya membuatku yang
sesungguhnya aku takut.
Ben Johnson tertawa, menganggap ini lelucon. Ia berusaha untuk tak terlihat
kaku ketika ia menceritakan hal yang kuanggap gila ini.
“Darah? Sepertinya aku ingin muntah,” kataku menutup mulut. Ben menertawai
tingkahku.
“Emm.. kupikir kau harusnya tidur,” katanya sambil membelai rambutku.
“Ya, aku tahu..”
“Dan aku akan pulang. Aku akan keluar melompat dari jendela ajaib ini,”
tambahnya dengan nada lelucon lagi.
“Oh, satu hal yang sangat ingin aku tanyakan lagi padamu,” kataku saat Ben
akan melangkah pergi, ia mengurungkan niatnya dan kembali duduk di dekatku.
“Anything,” ucapnya tersenyum.
“Kau belum menceritakan bagaimana kau pertama kali mengenal Elizabeth? Aku
hanya sekadar ingin tahu, apa kau keberatan?” tanyaku.
“Itu.., sudah lama sekali sejak temanku Fabrizio mengajakku bekerja di
sebuah industri tekstil kecil milik pamannya,” kata Ben suara merdunya
berangsur pelan. “Aku bertemu dengannya saat pertama kali aku melihatnya sedang
duduk menyendiri di balik jendela
kamarnya. Saat itu, 23 Januari 1971 sepulangku dari bekerja di sore hari tepat
mentari akan terbenam kami pertama kali bertemu. Elizabeth sangat cantik,
kulitnya putih mulus bak pualam. Ia wanita Inggris tercantik yang pernah
kulihat, ia tak pernah melihat dari kekuranganku—dari pakaianku yang tiap kali
bertemu dengannya lebih terlihat lusuh,” ia berhenti, tertawa menertawakan
dirinya.
“Sejak saat itu kami menjadi semakin dekat, sepulang dari bekerja aku
selalu menemuinya terlebih dahulu dari balik jendela kamarnya. Kami saling
mengirimkan secarik kertas dengan puisi,” Ben melanjutkan, ia tersenyum tapi
juga ingin menangis.
“So nice,” aku terharu mendengarnya. “It’s okay. Everyone that has
memorizes, maybe that sadness, love, or everything. Yes you can save that on
your mind, in your soul,” kataku, terdengar lebih optimis saat memberinya
semangat. Aku membelai bahu tangannya perlahan. Aku mulai menyukai Ben Johnson
yang entah dari sudut mana. Aku terus saja menggumamkan itu dalam hati. Tanpa
kusadari, aku pun berharap ingin membuat makhluk indah ini merasa bahagia saat
ini.
“Sepertinya Damon dan Gloria jelas tidak menyukaiku, ya?” tanyaku
pada Ben. Ia memutar bola matanya. Ia mencoba sedikit menunduk dan mendekatkan
bibirnya ke telingaku setelah membaca situasi kelas yang jelas tak kondusif.
“Percayalah, mereka bukan tak
menyukaimu..,” bisiknya amat pelan untuk kudengar. “Tapi mereka khawatir dengan
keselamatanku, dan pastinya
kami akan berhadapan dengan Arnold Paole suatu saat. Atau karena satu hal lagi karena
aku telah melanggar aturan bangsa kami,” katanya sambil menatap wajahku.
“Aturan..?” tanyaku, aku menggernyitkan kening.
“Benar. Adalah larangan bangsa kami berhubungan dengan
bangsa kalian. Jika berani melanggar maka ia akan bersiap dipenggal mati. Dan,
aku akan mati sebagai makhluk terkutuk,” Ben bersedih, aku sama halnya. Aku tak
ingin melihatnya begini.
“Kecuali..,” ia berhenti sejenak dan mengatur napas. “Jika
kau bergabung dengan kami,” katanya membuatku takut dan takut. “Tapi aku tak
ingin hal itu terjadi. Biarkan aku yang berkorban untukmu—dengan menentang
aturan mereka.”
“Ben, tak perlu kau lakukan apapun,” bisikku.
“Aku tak peduli seberat apapun akan kuhadapi nanti,” ia
berkeras.
Tiga mata kuliah hari ini ku jalani
bebas tanpa masalah, semua tugas dapat
kuselesaikan dengan tuntas. Aku lega entah apa, mampu sedikit menjaga
jarak dengan Ben Johnson. Dan, ini memasuki bulan ketiga setelah aku mengenal Ben
Johnson. Sepulang dari kampus aku memintanya untuk tak mengikutiku
hari ini, aku bilang jika aku akan pergi bersama Becca dan Kaori.
“Kau yakin akan ikut kami,
Michelle-san?” tanya Kaori. Aku mengangguk, yakin.
“Baiklah..,” kata Kaori setelah
menghela napas beberapa detik. Wajah tirusnya tampak santai, menyetujui
keinginanku untuk ikut pergi bersama mereka. Entahlah, aku pun kurang begitu
jelas mereka hendak pergi kemana. Mereka bilang, hanya ingin melepas penat
sejenak.
Sebenarnya ini ide dari Kaori. Kaori
adalah mahasiswa pindahan dari Tokyo University, ia baru satu tahun berada di
Louisiana. Entah apa yang membuatnya tertarik pindah ke kota kecil ini. Meski
demikian, bahasa Inggris-nya cukup lancar, namun struktural bahasa Perancis-nya masih banyak
yang perlu diperbaiki. Tapi, menurutku dia gadis yang cerdas dan sangat
bersemangat—ku pikir hampir semua orang Jepang begitu, memiliki kesamaan sifat
ceria, beresemangat, juga kreatif.
Aku juga mulai menyukai gadis ini.
Dia berbeda dengan Becca yang cerewet. Maksudku bukan berarti Yamada Kaori
pendiam atau sebaliknya. Ia hanya bicara seperlunya, dan tidak ‘berisik’
seperti Becca. Tapi gadis secerewet Becca hanya ingin lebih diperhatikan dari
yang lain. Sebab yang aku dengar dari teman-teman, keluarganya broken home.
Mungkin ini terdengar lucu, namun
terkadang aku ingin menjadi seorang ibu baginya. Entahlah, ia selalu membuatku
tersentuh. Sedangkan Kaori, seperti yang aku katakan ia sebaliknya dari Becca.
Kaori punya keluarga yang menyayanginya, berkecukupan. Ayahnya Yamada Imamoto
bekerja sebagai konsulat Jepang di New York.
“Akhir-akhir ini kau terlihat dekat
dengan keluarga Johnson, Michelle?” tanya Kaori ketika aku akan merekatkan
sabuk pengamanku.
“Well.., ya..,” aku
mengakuinya. Mereka tergelak, dipikirnya ini lucu. Padahal apa yang terbendung
dalam benak ini selalu saja menggelitik ingin bertanya.., terus saja bertanya
apakah aku jatuh cinta pada Ben Johnson? Apakah aku sungguh ‘begitu’ padanya?
Namun selain dari kesemuanya itu, aku merasakan ‘suatu petaka’ besar sedang
memburu jiwaku. Entah kehadiran Ben Johnson dalam hidupku berkah atau musibah?
“Sepertinya Ben Johnson juga menyukai
Michelle, kau tahu?” timpal Becca memulainya lagi.
“Oh, ya?” Kaori menanggapinya lebih
serius dari yang kukira, ia tergelak. Becca mengikutinya, sedang aku hanya
tersenyum menunduk, menyembunyikan pipiku yang memerah karena tersipu. Tak tahu
harus mengatakan apa lagi pada mereka—aku tampak seperti orang bodoh saat ini.
Meski dalam hati aku pun sempat mengakuinya lebih dari itu. Ini gila,
menurutku.
“Baiklah. Apa kita akan
bersenang-senang hari ini?” kata Becca menyelah.
“Kupikir, ya..,” timpalku.
Kaori mulai menyalakan mesin mobil,
aku membuat diriku senyaman mungkin duduk di bagian depan. Sedangkan Becca
duduk di belakang kami, ia tampak sangat menikmati suasananya. Aku, seperti
biasa—memandang keluar jendela sambil memikirkan segala hal apa pun bentuknya
yang melintas di otakku.
Aku mulai memikirkan Ben lagi, aku
ingin mengakuinya pada diriku sendiri. Sungguh.
Bahkan lebih dari sekadar memikirkannya. Entahlah, tiap kali aku ingin
bersamanya selalu saja ada pertentangan yang amat kuat dalam dadaku.
“Kau tampak aneh akhir-akhir ini,
Michelle..,” suara lembut Becca membangunkan lamunanku. “Apa kau.., sakit
atau…”
“Ya…, well…, kurasa tidak
juga,” kataku, dengan suara agak serak.
“Kurasa itu karena Ben,” timpal Kaori
meledekku lagi.
“Yeah…” Becca menambahinya lagi.
“Hei…, adakah hal lain yang dapat
kita bahas selain dia?” kataku tergelak, mereka makin kompak menertawaiku yang
tampak seperti seorang gadis yang baru saja jatuh cinta dan amat pemalu.
“Well, pertama kita akan ke
meseum Victoria. Setelahnya mungkin kita akan makan malam,” kata Kaori.
“Ok, aku setuju. Kita akan pergi ke
Museum Victoria dulu,” kataku mengulangi kata Kaori. Kulihat Becca juga
mengganggukkan kepala. Kaori segera menancap gas mobil dan sesegera mungkin
agar laju mobil tetap stabil dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam.
Tak lama, kami telah sampai di Museum
Victoria di St. West Louis. Museum ini adalah salah satu museum tertua
di Louisiana, dan yang paling bersejarah. Arsitruktur bangunannya dirancang
oleh seorang arsitek asal Spanyol tahun 1877. Begitu memasuki ruangan demi
ruangan di museum ini membuat bulu romaku berdiri, jantungku berdetak lebih
cepat—aku tak mengerti.
Langkahku menyusuri ruangan gelap
namun separuh tersisir oleh cahaya matahari, di dalam gelap aku seperti melihat
sosok pria berjubah hitam. Aku tak menghiraukannya, tangannya yang panjang
seperti ingin meraih tubuhku. Aku pergi dari ruangan itu. Aku memacu langkahku
agar mampu lebih cepat—mencari keberadaan kedua temanku tadi. Namun, aku tak
menemukan Kaori dan Becca. Yang aku temukan hanya sebuah buku usang bersampul
coklat berbahan kulit lembu yang jatuh dihadapanku. Langkahku terhenti,
kemudian kuambil buku itu—kubaca, penasaran dengan apa isi buku ini.
Semua terasa amat gelap, kepalaku
seperti tertekan benda keras seberat 5
kilogram—sangat pusing. Pandanganku kabur, sepertinya ini terjadi kembali. Sekejap, semua sudut ruang tak
terlihat sebercak cahaya sama sekali. Sesuatu yang asing telah membawa arwahku
pergi seperti melayang-layang ke udara—hingga dapat kulihat semua jiwa yang
mati dan yang hidup.
Aku melihat Becca dan Kaori yang baru saja menemukan
tubuhku yang terbaring di dekat ornamen-ornamen Italia—di samping kirinya
berderet jelas rak buku tertata rapi. Mereka memanggil namaku berulang kali,
aku berusaha membangunkan diriku sendiri. Bayanganku mencoba meraih tubuh kasarku,
tapi berulang kali kucoba tetap tidak bisa.
Hingga beberapa bayangan gelap dari arah lain menimpaku,
aku terjatuh tepat di atas tubuh kasarku. Kali ini kucoba membuka mata
perlahan.
“Hey, Michelle..! Aku sangat khawatir
padamu, kau tahu? Apa yang kau lakukan di ruangan gelap tadi?” cecar Rebecca
padaku.
“Take calm dawn please..,
Becca! Michelle masih berusaha..,” timpal Kaori.
“Baiklah, Nona Tenang..” tampak Becca
menghela napas panjang. Wajahnya tampak risau, tetapi Kaori justru sebaliknya.
“Kau harus minum ini dulu, Michelle,”
kata Kaori mengambilkan segelas air putih. Aku menurutinya, tanpa banyak
bertanya.
“Dengar, kita harus segera membawamu
pulang, Michelle” kata Becca masih tampak was-was.
“Tidak, aku baik saja. Trust me!
Aku hanya…, entahlah..” sekeras aku ingin mencoba mengingat, tapi kepalaku
terasa nyeri.
“It’s ok, Michelle!
Jangan terlalu memaksakan dirimu. Kami akan
membawamu pulang,” kata Kaori
dengan sikap keibuannya. Aku mengangguk, menuruti nasihatnya. Mungkin ini akan
bisa membuatku lebih baik.
Lalu, mereka membantuku berjalan
memasuki mobil. Mereka membaringkan aku di belakang. Saat kurasa mesin mobil
menyala dan kurasa mobil mulai menelusuri jalanan kota Louisiana, aku mencuri
dengar pembicaraan mereka. Aku pura-pura tertidur dengan mengkatupkan sweter
coklat milikku diatas wajahku.
“Kau tahu, aku sungguh panik! Kau
lihat tadi, ia membentur-benturkan kepalanya sendiri ke dinding. Ini gila!”
oceh Becca setengah berbisik.
“Aku tahu itu. Tapi, bisakah kau
tidak membahasnya sekarang?” Kaori menaikkan nada bicaranya, berusaha agar
sahabatnya yang cerewet ini tenang dan bersikap dewasa.
Aku mengintip dari balik sweeter berwarna coklatku, kulihat
Becca sedang minggigiti kukunya. Ia tampak kikuk dan sedih juga sepertinya.
Sedangkan Kaori Si Nona Tenang tetap fokus pada kemudinya.
Aku memutar otak, masih berusaha
keras untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi padaku. Kepalaku masih terasa
sakit, semua kejadian ini membuatku bingung. Sejauh ini yang bisa aku ingat
hanyalah ketika aku berada disebuah bangunan tua berarsitekturkan Eropa klasik,
ah..bukan. Itu hanyalah Museum Victoria di St. West Louis.
Aku masih memengangi kepalaku yang terasa amat sakit—kali
ini jiwaku serasa lebih goyah dan rapuh. Aku berdo’a semoga ini tak akan
membuatku gila atau hilang nyawa. Kucoba pejamkan mata bermaksud agar
perasaanku lebih tenang—tapi aku masih mendengar mereka berdua beredebat. Dari
suara yang aku dengar, Becca begitu khawatir terhadapku. Sedangkan Si Nona
Tenang hanya diam meskipun mungkin dia juga tetap merasa khawatir.
“Wait,
sepertinya aku mengingat sesuatu..” kata Becca pada Kaori memecah
keheningan diantara mereka.
“Well, apa itu?”
“Aku berhasil mencuri ini dari Museum Victoria..,” Becca
menunjukkan sesuatu yang ia ambil dari dalam tasnya. Kedengarannya benda yang
sangat penting sehingga ia mencurinya dari Museum Victoria.
“Apa? Kenapa kau lakukan ini Becca? Gila.” Suara serak
Kaori terdengar sangat kesal pada Becca. “Well, lalu apa hubungan benda
itu dengan kejadian ini?” katanya setelah menarik napas panjang.
Aku sadarkan diriku kembali dibalik sweeter tebalku, aku
memasang indra pendengaranku sejelas mungkin.
“Ketika ia pingsan, ia memegang buku tebal ini. Setelah
aku membacanya, barulah aku mengerti buku ini sebuah buku harian, dan pemiliknya
adalah seorang wanita bernama Elizabeth Morgan..” ceritanya pada Kaori dengan
suara setengah berbisik.
“Apa?” Kaori terkejut. “Coba kau lihat tanggal penulisan
buku harian itu, apakah tertera dibawahnya?”
“Baiklah. Ini tahun 1763 sampai 1796. Cukup lama..” desah
Becca seolah ia tak memercayai hal ini. “Dan, satu lagi. Ada sebuah lipatan
kecil, sebuah lukisan lipat. Lihat! Ini.. Pria tampan ini, sepertinya aku
pernah melihatnya, kau tahu? Seperti..., seseorang yang kita kenal..”
“Mungkinkah Ben Johnson? Ah..tidak mungkin..” Kaori
menyahut dan tebakannya kurasa tak meleset.
“....I think, I’m so crazy now,” gumam Becca putus
asa. Terdengar Becca membanting buku harian itu ke belakang jok mobil tepat di
dekat pembaringanku.
“Sebaiknya kita tidak perlu memikirkan hal ini, tolong
jangan katakan ini padanya. Ini pasti tidak akan berlansung baik,” Kaori
mencoba optimistis jika tak memberitahuku tentang hal gila ini, walau aku telah
mengetahuinya secara diam-diam.
Mereka berhasil mengantarku pulang kerumah, namun mereka
lengah ketika aku mencuri diam-diam buku harian itu dan aku dapat bernapas lega
karena sebisa mungkin memasukkannya
kedalam tasku. Jika mereka mengetahui bahwa aku telah mencurinya, kurasa mereka
jauh lebih marah dari yang aku bayangkan.
Kulihat mereka sedang berbicara diluar mobil, ditanah
lapang dengan rerumputan yang berada di halaman depan rumahku. Wajah Becca dan
Kaori tampak sangat serius, kulihat Kaori sedang menekan beberapa angka di
ponsel miliknya, aku tak tahu jelas siapa yang ia telepon saat ini. Tapi dari
mimik wajahnya ia seperti mencoba menerangkan apa yang terjadi pada kami hari
ini.
Tak berselang lama mobil Volvo hitam methalic beserta plat
nomornya yang tak asing bagiku datang. Kecepatan mobilnya melesat cepat hingga
meninggalkan garis lengkung di rerumputan ketika ia menginjak pedal rem. Dan, sudah kuduga pemilik mobil itu
adalah Ben Johnson yang kukenal.
Mereka bertiga tampak berbincang sejenak, wajah mereka
tampak khawatir. Kulihat Kaori menjelaskan kronologi kejadiannya, sedangkan
Becca hanya mendengar dan sedikit masih tampak bingung. Ia menggelengkan
kepalanya lebih dari satu kali.
Lalu mereka menuju kemari, aku segera berpura-pura menutup
mata kembali. Kudengar pintu mobil mulai dibuka, kurasakan tangan dingin Ben
Johnson dengan lembut meraih tubuhku—ia menggendongku.
“Baiklah, akan ku urus ini. Terima kasih sudah membantu,”
ucap Ben Johnson pada Becca dan Kaori.
“Kami senang bisa memercayakan masalah Michelle padamu,
Ben..” Kaori terdengar berharap pada Ben.
Saat kudengar suara Ben Johnson mengeluhkan tentang
keadaanku, aku sudah berada dikamar. “Bangunlah, aku tahu kau berpura-pura..”
Aku lalu membuka mata tanpa ragu, aku tertawa geli. Ben ikut menertawai aku.
Aku duduk diatas tempat tidur dikamarku, dan Ben duduk di sebuah sofa kecil
disamping pembaringan.
“Sebenarnya apa yang terjadi..?” tanya Ben akhirnya.
“Oh..itu. Terdengar seperti lelucon bagiku, tapi entahlah.
Kurasa kau sudah mendengarnya sendiri dari mereka..” jawabku sedikit konyol.
Matanya seakan mencari jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan sendiri dalam
hati ‘kenapa?’.
“Aku tahu ini tak mungkin, tapi inilah yang terjadi.. Dan,
aku menemukan ini” aku menggelengkan kepala. Ku ulurkan sebuah buku harian
setebal tiga jari padanya.
“Ini..?” Ia terheran-heran.
“Ya. Aku menemukannya di ruangan tak bernama di Museum
Victoria St. West Louis. Dan.., aku tak ingat lagi” Jelasku. “Apa kau
tahu museum itu?” tanyaku saat Ben mulai membuka lembaran-lembaran buku harian
itu.
“Ini milik Elizabeth Morgan..” tukasnya.
“Tentu, tanpa kau jelaskan detailnya..” sergahku.
“Apa kau ingat bagaimana kau pingsan?” interogasinya lebih
lanjut.
“Tidak. Ini tak berjalan baik, kau tahu? Aku tak paham
dengan semua ini. Ini membuatku.., merasa seperti orang tolol” aku terdengar
putus asa.
Ben dengan cepat mengalihkan perhatiannya padaku dan
menutup buku mengerikan itu. “Tidak, Michelle. Jangan kau paksakan dirimu..,
aku tak akan kuasa melihat kesedihanmu” pemilik suara merdu penuh kehangatan
juga kepedulian.
“Kurasa bukan aku yang rapuh, tapi kau.. Ben Johnson,” sela-ku begitu aku menyadari
kelemahannya.
“Kau benar,” Ben tertunduk lemas, wajahnya menyimpan
kepedihan itu lagi. “That is like a strong but weakness, in reality..”
akunya.
“Berhentilah untuk menyesalinya, Ben..!” kataku tanpa
berpikir tentang bagaimana perasaannya yang saat ini kurasa sedang carut marut.
Aku melihatnya masih tertunduk. Apa yang bisa aku lakukan untuk makhluk seindah
dirinya?
“Aku tahu..” ucapnya terdengar makin sedih. Lalu ia
memalingkan wajahnya menjauh dariku. “Lupakanlah saja semua..” katanya putus
asa.
“Apa?” tanyaku dengan sikap terbodohku.
Ia segera membuka jendela kamar, dan melompat dari pintu
jendela. “Ben.. Ben.. Ben Johnson. Apa yang kau lakukan? Kita belum selesai
bicara..” teriakku dengan suara sedikit serak. Tapi ia berlalu saja dan
mengendarai Volvo hitamnya dengan cepat meninggalkan tempat peraduanku. Aku
menahan kesal sendiri meski aku mencoba untuk melupakan kejadian konyol ini.