Kamis, 26 April 2012

Elizabeth Morgan

Aku terkejut bukan main.  Ben Johnson mendapati diriku tengah asyik menata bunga dalam pot yang baru saja kubeli. Aku tak pandai menyembunyikan perasaan, salah satu hal yang telah lama aku sadari sejak aku mengenal dirinya adalah ia selalu membuat jantungku berdegup tak beraturanaku tiba-tiba begitu sangat risau dan terus-menerus memikirkannya sejak kejadian malam itu. Lima tahun berlalu setelah kepergian Sarah rumah itu menjadi terasa amat dingin, dinding-dindingnya membeku dan seluruh benda mati penghuni rumah itu pun seakan menjadi saksi bisu masa lalu kami—tak ada seorang pun yang mau bertandang kerumah tua itu kecuali jika benar-benar ada kepentingan mendesak.
“Rupanya kau berada disini,” Ben mencoba mengawali pembicaraan. Aku memalingkan wajahku darinya.
“Kau lagi,” erangku sedikit ketus. Ia tak jua menyerah—matanya yang berwarna coklat menyala terus mencari sudut wajahku meski sikapku dingin terhadapnya. Aku tak tahu, aku selalu menutup diriku dari orang sekitarku terlebih jika orang asing atau yang baru saja kukenal, itulah mengapa aku tak terlalu banyak teman. Sungguh aku tak peduli.
“Ya, tentu saja karena aku tahu kemana aku harus pergi mencarimu..”
“Apa? Oh,  please jangan bercanda Ben..!” kataku—kuharap ia mengerti aku tak ingin mendengarnya seolah ia seperti mengatakan hanya akulah yang berada dibenaknya—begitu pemikiran konyol itu seketika melesat hebat dalam otakku. Aku bahkan dapat menghitung seberapa lama aku  mengenalnya. Sangat singkat.
Aku tak kuasa mendengar suaranya yang merdu dan menggoda itu. Ben mendekatkan wajah tampannya padaku. Sorot matanya memburu dua bola mataku penuh isyarat yang menggambarkan isi hatinya—aku mencium aroma seutas masa yang Ben tinggalkan namun masih melekat dalam memorinya.
Aku tak tahan ketika melihat Ben selalu menatapku seperti ini,  aku begitu tergoda ketika bibirnya mulai mengatakan sesuatu. “Kau tahu? Aroma tubuhmu yang membuat aku selalu tahu dimana keberadaanmu. Aroma tubuhmu bagai sebuah medan magnit bagiku,” ungkap Ben akhirnya dengan suaranya yang memikat—seakan menghipnotis. Ini sudah terdengar lebih gila.
Tubuhku serasa terpasung, bibir tipisku tak mampu berucap lagi ketika menatap matanya yang berwarna coklat menyala. Lalu aku mendorong pelan dadanya dengan tanganku agar ia tak terlalu dekat dengan wajahku yang memerah karena malu. Tentu aku tidak sanggup bila harus membalas tatapannya berlama-lama, ia nyaris membuatku ingin menyentuh wajahnya. Nyaris.
Suara riuh hujan membangunkanku. Ben berdiri di sampingku dan memandangi air yang jatuh dari langit di depan jendela kaca yang mengembun.
“Sadar atau tidak hujan mempunyai kemampuan untuk menghipnotis manusia mengenang masa lalu,” katanya. Kuanggap kemungkinan besar Ben benar. Aku berpaling menjauh darinya, ia mengerutkan kening—kecewa. “Apa kau ada waktu untuk kita bicara lagi nanti setelah makan siang?” tanya Ben saat aku hendak pergi.
“Aku tunggu kau di gerbang kampus jam dua belas siang,  jangan terlambat!” perintahku. Aku sendiri tidak mengerti apa yang telah aku katakan barusan—aku membuat janji dengan Ben Johnson. Ini kedengarannya mungkin sedikit lucu.
Aku kembali ke kelas—berusaha menenangkan diriku yang sedang bergejolak tiap kali Ben menatapku. Dikelas tampak tenang. Aku membuat diriku senyaman mungkin berada di tempat dudukku. Di jendela kelas yang nampak basah berembun karena titik-titik hujan aku melihat Ben tampak sedang mengobrol dengan seorang perempuan dan seorang laki-laki. Perempuan itu luar biasa cantik dengan rambut panjang  keriting pirang yang menawan, berkulit putih bak porselen dan wajah sama pucatnya dengan Ben. Juga pria yang tinggi badannya tidak jauh beda dengan Ben Johnson. Tampan tapi tak lebih tampan dari Ben tentu saja, hanya ia terlihat sedikit lebih muda dari Ben.
Bahasa tubuh mereka penuh isyarat. Sayangnya aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka, yang dapat aku lihat dari kejauhan hanyalah kening Ben yang tampak mengerut—seakan banyak hal yang harus ia tanggung sendiri, seakan ia sedang berada di bawah tekanan.
“Hai, Michelle..,Becca  mengejutkanku dari arah belakang. Ia hanya satu dari sekian banyak teman dikelas bahasa ini yang cukup mengenal bagaimana diriku. Ia memiliki rambut berwarna coklat, lurus namun ikal di bagian ujungnya, lebih panjang dari rambutku. Kulitnya putih halus, ia cantik menurutku. Karena banyak teman pria yang menyukainya.
“Hai Becca, kau rupanya,” aku tersenyum simpul padanya.
“Aku selalu melihatmu sendirian. Kau sedang melihat apa diluar sana?” tanya Becca yang tampak bingung melihatku sedikit resah ketika aku mencari-cari sosok Ben dan dua temannya yang sedang mengobrol tadi tiba-tiba hilang.
“Ah, tidak. Sepertinya tadi aku melihat Ben di sana.”
“Disana?” Becca menunjuk ke arah depan pagar kampus, tepat seperti yang aku tunjuk juga. “Kau bercanda. Disana tidak ada siapa pun,” kata Becca sepakat dengan pendapatnya.
“Apa?” aku terkejut, menatap keluar berkali-kali dan sungguh tak memercayai hal ini.
“Kau ini gila?” cecarnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Ada apa Michelle? Apa kau baik-baik saja?” Ben tiba-tiba menyela diantara perbincangan kami. Ia mengagetkan aku untuk kesekian kali.
“T…T..Tt..Tapi, kau? Tidak mungkin..,” kataku terbata-bata. Aku tersentak, rasanya air ludahku seperti tersangkut dipangkal tenggorokan. Kulihat pakaiannya kering, tak terkena tetesan air hujan sedikitpun. Wajah tampannya juga tenang, nyaris seperti tak terjadi apa pun padanya. Bahkan aku beranggapan ia seorang pembohong terhebat yang pandai berpura-pura. Padahal sangat jelas aku melihatnya di depan gerbang kampus.
“Tadi..—bukankah tadi kau disana, Ben?” tanyaku lagi, tak percaya. “Ini sungguh tidak mungkin..” gumamku.
“Aku tak mengerti. Tapi disana tak ada siapapun sejak tadi,” tukas Becca setelah aku sadar klarifikasiku tak berhasil. Wajahnya tampak berkeras, ia tidak memercayai kata-kataku, karena kenyataannya mereka sudah tak ada lagi di sana. Aku tahu Becca pasti menganggap hal yang aku katakan ini konyol, sepertinya ia juga menganggapku layaknya seperti orang tolol.
“Sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja,” cetusku, dua tanganku mengepal dan mengapit kepala.
All right, aku mengerti. Mungkin kau terlalu lelah berpikir, jadi kurasa kau sedang berhalusinasi.., karena di luar sedang hujan,” kata Ben.
Well, aku pikir kau benar. Aku terlalu lelah,” kataku akhirnya saat dua tanganku memegangi kepalaku—hingga aku berpikir kalau aku sudah gila karena kehadiran Ben dalam hidupku secara tiba-tiba. Meski hatiku menyangkal bahwa yang tadi itu aku sedang tidak berhalusinasi.
Firasatku mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada diriku (aku tidak akan mengatakan firasat ini pada siapapun karena sudah pasti tidak akan ada yang memercayai hal ini). Kurasa mataku berkaca-kaca dan lelah bukan main, kepalaku juga terasa amat sakit dari yang biasanya kuderita. Kulihat disekelilingku, buram dan hitam hingga sebuah pintu yang tampak dihiasi lampu pijar dengan cahaya menyilaukan membawaku kesebuah tempat yang sama sekali tak kukenal.
Disana terbentang sepetak taman bunga lavender, disekeliling taman tumbuh pohon-pohon besar yang rindang. Aku mencoba melalui jalan setapak yang aku sebut taman itu. Lalu aku merebahkan tubuhku di rerumputan nan hijau, sejenak aku merasa seperti di surga. Tempat ini begitu indah. Tepat  seperti mimpiku kemarin malam, lagi dan lagi.
“Elizabeth… Elizabeth…” Suara itu menggema diparuh bagian gendang telingaku secara alami. Aku tersentak dan segera membuka mata, ketakutan mulai menjalari perasaanku lagi. Tak tenang—merasa amat sendiri dan sedih.
“Siapa?” tanyaku dengan suara gemetar.
“Elizabeth..” suara itu menggema lagi kali ini diantara dahan dan ranting-ranting rapuh yang basah dari pepohonan pinus besar. Kemudian kulihat seorang laki-laki bertubuh tinggi muncul dari kepulan asap tebal. Ia mengenakan jubah hitam, wajahnya luar biasa pucat, rambutnya kuning keemasan. Dua bola matanya yang berwarna coklat-merah menyala menatapku tajam seolah ingin menerkamku.
“Elizabeth..,” sebutnya lagi, lebih halus dengan intonasi rendah namun terdengar seperti bernyanyi.
“Siapa Elizabeth? Siapa yang kau cari? Pergilah menjauh dariku! Aku bukan Elizabeth..!!” jeritku pada pria rambut kuning keemasan mengerikan itu.
“Telah sekian lama aku mencarimu, Eliza..” Ia terus mendekat padaku, menunjukkan dua gigi taringnya. “Marilah ikut bersama denganku, Eliza..! Aku merindukanmu..,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya, jari-jari dan kukunya yang panjang. Aku tak kuasa—membuat aku merasa jijik.
“Menjauhlah darinya!” Seorang pria tampan tiba-tiba hadir diantara kemilauan cahaya kekuningan, ia mendekati celah antara aku dan pria seram tadi. ‘Ben Johnson’, diakah itu? Oh, Tuhan aku tak percaya ini. Tapi sosok tampan itu benar-benar dirinya.
“Ben Johnson, bagaimana kabarmu? Lama kita tak berjumpa. Aku telah lama menunggu kehadiranmu, kau tahu itu?” katanya, ia lalu tertawa keras—suaranya menggema di sudut-sudut pepohonan berlumut.
Raut wajah Ben terlihat amat sedih ketika menatapku, rahangnya menegang. Aku tak percaya kini ia sedang memelukku, melindungiku dari pria bertaring mengerikan tadi. Kurasakan tubuhnya sedingin es, tapi hebatnya kekhawatiranku luar biasa lenyap begitu ia membalutkan tubuhnya padaku. Ku dengar suara yang tadinya samar kini semakin jelas dan bertambah jelas.

Ia memanggil-manggil namaku berulang kali, “Michelle. Michelle.., can you hear me? Michelle, kumohon sadarlah..,” suara merdu Ben terdengar sangat khawatir dan sedih menggema di telingaku memecah sepotong mimpi buruk yang tak kumengerti.
 Aku memegangi kepalaku yang masih terasa pusing, kulihat Ben Johnson sudah bersamaku. Wajahnya tampak lebih pucat ketimbang aku.
“Oh, Michelle, syukurlah kau sadar. Aku sangat khawatir, kau tahu?” katanya dengan suara sedikit gemetar, tangannya yang dingin seperti gumpalan darah yang membeku menggengam tanganku, kurasakan tubuhnya meraih tubuhku—merangkulku. Mungkin  aku cenayang, tapi aku masih sangat bingung dengan keadaan ini.
“Syukurlah kau sadar, sejak tadi Ben menjagamu disini. Dia yang membawamu ke mari saat kau pingsan dikelas tadi,kata Becca  padaku. Kulihat wajahnya juga tampak mencemaskan aku.
“Aku tidak apa-apa, mungkin terlalu lelah,” erangku sambil memegangi kepala.
“Sungguh?” tanya Ben masih khawatir. Kali ini aku sedikit peduli padanya, mungkin  karena ia sempat hadir dalam mimpiku tadi dan mencoba menyelamatkan aku—meski aku tak tahu maksud dari mimpi burukku.
Aku mengangguk, lalu Ben memberiku segelas air putih dan aku meminumnya tanpa berpikir buruk lagi tentangnya.
“Aku merasa baik. Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Kita akan bicarakan ini nanti.” Isyaratku padanya, dan ia mengerti.
“Baiklah, aku harus pergi sekarang. Ben, tolong jaga Michelle baik-baik! Aku serahkan kepadamu.” Becca berusaha mengerti, walau mungkin ia merasa sedikit tidak enak hati karena meninggalkan kami berdua.
Thanks..” ucapku pada Becca. Kini ia telah meninggalkan kami berdua—Ben masih menatapku dengan tatapan yang sedih. Jalan pikirannya sulit untuk kubaca, pikirannya terlalu  kaca. Sekali lagi aku menekankan pada diriku sendiri bahwa ia sedang memikul beban pikiran yang berat dan terlalu lama.
Ini lebih seperti terjaga dari hempasan mimpi buruk yang berulang kali terjadi, mimpi buruk yang seolah membawaku pada dimensi waktu yang berbeda. Entahlah, aku kelewat lelah untuk memikirkan ini berlaru-larut.

Ben membantuku berjalan hingga kami memasuki mobil Volvo hitam metalic miliknya. Aku duduk didepan, disamping Ben. Ia mengatur suhu AC mobil agak tak terlalu dingin.
“Apa yang sedang kau pikirkan, Ben?” kataku mencoba mengawali pembicaraan kami ketika kulihat raut wajahnya sedang bersedih.
“Bukankah kau punya kelebihan itu?” singgungnya lagi-lagi.
“Ya,” akuku. “Tak ada yang bisa kubaca darimu saat ini. Ini sulit, pikiranmu sedang kacau dan memikirkan hal-hal yang menurutku konyol,” kataku akhirnya.
“Oh, Michelle… Tolonglah ini sulit bagiku untuk mengatakan,” rintihnya padaku. Kurasa ia tampak lebih kurang bersemangat saat ini dari pada aku.
Sorry, aku tak bermaksud membuatmu begini. Sudahlah!” hempasku sambil memegangi kepalaku.
Perjalanan menuju rumah terasa lebih lama dari yang kuduga. Aku memandang keluar jendela yang berembun untuk mengalihkan kecemasanku setelah aku berusaha memaksa Ben untuk menceritakan isi hatinya. Aku memang payah, tak semestinya aku memaksanya begitu. Jika aku tahu ia tidak menyukai caraku, bukankah aku bisa menunggunya nanti setelah suasana hatinya tenang. Tapi ia tampak diam, ingin rasanya aku berteriak pada Ben; siapa dia sebenarnya? Dan apa yang sedang ia cari? Namun, tidak mungkin kurasa untuk saat ini.
Biarlah. Aku berusaha untuk tetap tenang, memandang pepohonan besar diluar jendela. Membiarkan  diriku larut dalam lamunan.
“Apa kau ada acara malam ini?” tanya Ben akhirnya-saat kami telah sampai dirumah.
“Tidak ada, mungkin memasak atau mengerjakan tugas akhir pekan,” jawabku santai.
 “Jika kau sudah merasa lebih baik, bolehkah aku mampir kerumahmu nanti malam?” kata Ben sedikit menundukkan wajah, mungkin ia malu. Aku tak menduga, suasana hatinya cepat sekali berubah.
“Tentu. Apa akan ada makan malam?” candaku  berusaha mencairkan suasana. Ia tersenyum, sedangkan aku merasa sedikit lega—berharap ia tak terlihat sedih lagi. Melihatnya tersenyum aku pun ikut tersenyum. 
“Senyummu sungguh indah, Michelle. Di dalam pikirku, kau lebih terlihat menawan,” godanya padaku membuat wajahku memerah, tersipu.
“Aku rasa sudah cukup, kau harus pulang sekarang. Ibumu pasti mengkhawatirkanmu.”
“Baiklah,” ia tertawa.
Thanks, karena kau telah membantuku hari ini,” aku menutup pintu mobilnya. Ben mengangguk, dan aku membiarkan mobilnya melaju menjauhi tempatku berdiri.
Hujan telah reda, menebarkan semerbak aroma basah. Aku membuka pintu rumah yang terkunci. Kulihat Orion telah menyambutku di depan pintu dengan keluhan kecilnya, ia mengendus-endus jariku dan menjilatinya. Mungkin ia lapar karena seharian ia kutinggal pergi, pikirku.
“Hei, sayang. Mana Lory, Catty, Pinny dan yang lain?” aku menanyakan saudara Orion pada Orion seakan Orion dapat mengerti apa maksudku. Aku menggendong kucing berwarna hitam pekat itu. Aku mempunyai tujuh ekor kucing peliharaan dirumah tua ini; yang paling cantik si kucing persia kuberi nama Lory, si cantik dari Irlandia Catty, si kecil Pinny, Lui, dan Mily anak hasil perkawinan silang antara Lory dan Orion si kucing lokal Amerika. Aku menyayangi mereka seperti keluarga kecilku. Karena hanya mereka yang selalu menemaniku dirumah tua ini.
 Sebelum mandi, aku menyediakan makanan untuk Orion, Lory, Catty, Pinny, Lui dan Mily. Aku menyediakan fish cat untuk mereka. Merasa terhibur setiap kali melihat mereka makan bergerumul.
Saat mandi, aku mulai memikirkan Ben lagi. Entah mengapa dua hari ini selalu terlintas di benakku tentangnya? Semua hal yang kualami belakangan ini membuatku bingung. Semuanya terjadi bersamaan seiring dengan hadirnya seorang Ben Johnson dalam hidupku.
Air hangat berhasil membuatku merasa lebih relax. Aku menyisir rambutku yang panjangnya lurus hingga sebahu di depan cermin, ini kali pertamanya aku makan malam dengan seorang pria. Aku menertawai diriku sendiri di depan cermin, aku merasa diriku sangat lucu karena sedang bertanya-tanya pada diri sendiri; apa aku sedang jatuh cinta? Entahlah.
Aku mengenakan gaun warna putih dengan bahu terbuka, tapi aku akan menutupnya dengan sweater pendek warna putih juga. Dan tak lupa high heel milikku—well sebenarnya bukan milikku sepenuhnya. High heel putih ini sepeninggalan Sarah saat ia masih remaja. Sarrah selalu menginginkan aku dapat tumbuh menjadi seorang gadis feminin dewasa, karena menurutnya itu mencerminkan identitas sejati seorang wanita dimata seorang pria—jadi aku menyimpannya dengan baik di lemari sepatu.
Pukul tujuh lebih dua puluh lima detik, aku membuka tirai jendela kamarku. Ben sudah menunggu di depan rumah. Ia sedang berdiri di dekat mobilnya, mesinnya mati. Ia melempar senyuman padaku, ia tahu aku sedang memerhatikan gerak-geriknya dari sini.
 Aku segera melangkah menuruni tangga dari kamar menuju lantai bawah. Orion menghampiri langkahku lagi, ia mendongakkan wajah lucunya padaku. Aku meraih tubuh kecilnya, kubawa ia hingga menuju teras ketika Ben sedang menantiku. Ia mengenakan tuksedo hitam, rambutnya tampak tersisir rapi.
“Michelle, apa binatang berbulu itu milikmu?” tanya Ben, wajahnya tampak aneh ketika melihat Orion dipelukanku.
“Ya. Apa kau alergi terhadap kucing?”
“Tidak begitu suka, tapi ia tampak manis. Apa kau memberinya nama?” tanya Ben lebih lanjut, ia mencoba menyentuh Orion dan menggendongnya.
“Orion,” jawabku.
“Orion?” Ucapnya. Berapa kali aku harus mengulang? Kata-kataku mungkin terdengar kecil ditelinganya.
“Ya, Orion. Tampaknya Orion mulai menyukaimu Ben,” kataku ketika Orion terlihat nyaman di belaian Ben.
“Ya, kurasa begitu.”
“Baiklah, sudah saatnya kau harus menjaga anak-anakmu, Orion,” aku meraih tubuh Orion dari belaian Ben.
“Sayang sekali kita harus berpisah dulu ya Orion,” kata Ben pada Orion.
Aku segera memasukkan Orion kedalam rumah, seperti biasa aku mengunci pintu dan menutup tirai semua jendela.
“Malam ini kau tampak lebih cantik dari biasanya, Michelle,” Ben memuji lagi saat ia membukakan pintu mobilnya untukku. Aku membalasnya dengan senyuman kecil.
Ben mengatur suhu AC seperti yang dilakukannya seperti tadi, namun kali ini ia mencoba memutar tembang lawas milik Barry Manilow  dengan judul lagunya yang masih kuingat Can’t Smile Without You.
Aku melihatnya tersenyum, hingga membuatku heran melihatnya sering kelewat senyum—apa dia gila? Aku menertawai dirinya diam-diam. Akhirnya ia merasa dirinya sedang ditertawakan.
“Sepertinya kau sedang menertawakan aku ya?”
“Ya..,” aku masih tertawa.
“Aku tahu, pasti karena kau menganggapku gila,” cetusnya.
“Kau tahu?” tanyaku.
“Aku hanya menebak. Tenanglah, itu bukan keahlianku”
Dia selalu bisa membuatku terpesona dengan setiap kata yang ia ucapkan, sadarkah ia? Aroma tubuhnya sangat khas dan manis, aku suka itu. Oh, Tuhan kurasa akulah yang pantas disebut sebagai orang gila saat ini, entahlah.
“Rencana A, kita akan makan malam terlebih dulu. Rencana B, aku akan menunjukkanmu sesuatu, dan aku berharap kau bisa menerimanya, ” terang Ben, aku tak mengerti tapi aku berusaha memahaminya.
“Menerima?”
“Ya, menerima”
“Menerima apa?” tanyaku penasaran. Aku menatapnya sejenak. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela--kebiasaanku.
“Semua akan baik-baik saja, tenanglah Michelle. Aku berjanji akan menjagamu,” kata Ben mendalam, mencoba meyakinkan aku. Sejenak ia menatapku, lalu ia memalingkan wajahnya dan terlihat kesal dengan dirinya sendiri.
“Aku percaya padamu,” kataku sambil membalas tatapannya. Ia tersenyum lagi. Aku merasa sungguh gila dapat secepat itu memercayai orang yang baru saja kukenal. Konyol. Tapi hanya itu yang dapat aku lakukan saat ini, setelah mimpi buruk saat di ruang UKS kampus itu aku sadar jika keselamatanku sedang terancam.
Selama dalam sisa perjalanan kami membisu. Aku bisa merasakan yang ada dalam pikirnya tentang kekhawatiran, kegundahan sekaligus kemarahan di dalam dirinya, aku bingung harus mengatakan apa.
Kemudian pepohonan kelam tak terlihat lagi, berganti gemerlap lampu malam kota La Nouvelle-Orléans. Hingga perjalanan berakhir di sebuah restoran mewah bergaya arsitektur Eropa. Ben memilih restoran Perancis, dan memarkirkan mobilnya di parkiran yang terletak di sudut kiri restoran.
Ben membukakan pintu mobilnya untukku dengan sangat pelan dan sopan, ia menyambut dan mencium tangan kananku. Ia tersenyum, seperti biasa ia mudah sekali mengubah suasana hatinya dalam hitungan menit. Dan aku harus mengatakannya sekali lagi, malam ini ia sangat dan sangat tampan.
Ben segera memilih tempat duduk untuk kami berdua. Akhirnya kami duduk di sudut kanan, taplak meja berwarna putih dan di dekat meja terdapat kaca bening yang dihiasi oleh gemercik aliran air. Terdengar alunan instrument musik yang terasa merdu dan menggugah rasa.
Kemudian seorang pelayan laki-laki bertuguh tegap menghampiri kami, ia menawarkan beberapa menu special dalam bahasa Perancis. Tapi aku bilang pada Ben, sebaiknya memesan makanan yang biasa saja. Ben menyetujuinya, ia memesan dua porsi steak, caviar, sepiring salad dengan bermacam sayur yang aku kurang tahu detailnya sayur apa saja, beserta sekeranjang kecil roti Perancis,  aku menambahkan secangkir milk cappucino kesukaanku. Itu saja.
Merci beaucoup..,” kata Ben berterima kasih pada pelayan itu dalam bahasa Perancis.
“Apa kau sering datang ketempat ini?” tanyaku.
 “Ini restoran favorite keluarga kami,” jawabnya.
“Wow..” keterkejutanku terdengar geli. “Sepertinya keluargamu memiliki selera makan  yang tinggi,” kataku bermaksud ingin membuat suasana menjadi hangat.
“Tidak, hanya sesekali kami kemari,” tanggapnya biasa saja. Ben memandangku.
Tak lama pelayan laki-laki berambut coklat pirang datang membawakan pesanan kami. Ia menaruhnya satu persatu sambil melihat kearahku sebentar. Aku mencoba tersenyum ramah padanya.
“Ia terpesona padamu, sepertinya,” kata Ben.
“Benarkah?” kataku. Aku tersenyum, ia menundukkan wajahnya lalu menatapku lagi.
Vous êtes belle ce soir,.”[1] puji Ben untuk kesekian kalinya pada malam ini.
Merci beaucoup. Tapi kau telah mengulangi kata itu lebih dari satu kali malam ini, Ben.” Aku tertawa menatap wajah tampannya yang sungguh memesona, hingga tak membuatku  bosan. Rasa kesal terhadapnya saat pertama kali mengenalnya luntur hanya dalam waktu singkat pada malam ini.
Lalu Ben tergelak. “Really?” tanyanya.
“Ya. Kalau begitu makanlah,” perintahku. Ia tampak lebih manis ketika  menurut.
Aku memotong steak-ku dan memakannya. Aku benar-benar menikmatinya, mengunyahnya pelan-pelan—seperti layaknya seorang gadis ‘sungguhan’. Karena percayalah dulu aku sangat tomboy dan cuek. Lagi pula aku tidak pernah merasakan makan malam dengan seorang pria, bahkan dengan suasana senikmat ini. Karena memang tidak ada orang special dalam hidupku, kosong. Maksudku, ini memang untuk yang pertama kalinya.
Selesai makan steak, aku menyeruput milk cappucino-hangatku perlahan. Ku cium aromanya. Harum, manis, nikmat aroma kopi dan susu kesukaanku.
“Kau penikmat kopi juga rupanya, Michelle..”
Aku mengangguk. “Aroma kentalnya membuatku ingat pada Sarah..”
“Sarah?” tanya Ben penasaran.
“Ibuku. Tapi ia sudah lama pergi, ia kecelakaan mobil saat hendak menjemputku di sekolah, nyawanya tak tertolong dan meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit,” ceritaku.
“Maaf..,” kata Ben menyesal.
It’s okay. Aku telah biasa,” aku mencoba tegar saat ia memandangku dengan wajah sedih. Aku tak ingin meneruskannya, aku jengkel bila harus berlama-lama mengenang masa sulit.
Waktu makan malam telah usai. Ben yang membayar semua tagihan, meski ia tidak menyentuh makanannya sama sekali. Walau demikian ia cukup menghibur.
Aku duduk manis di dekatnya saat mobil akan meluncur dan segera meninggalkan pelataran parkir di restoran. Bertanya-tanya pada diri sendri apa yang akan terjadi setelah ini? Aku memandang Ben sejenak, ia tersenyum lagi.
“Setelah ini kita akan pergi kemana?” tanyaku.
“Kerumahku,” jawab Ben, aku menelan ludah.
“Kerumahmu? Tidak tanpa persetujuanku,” bantahku.
“Sudah aku katakan padamu tadi bahwa kau harus ‘menerima’. Aku janji ini akan berlangsung baik, aku akan mengatakan hal yang ‘sangat penting’ dalam hidupku, dan aku akan menjagamu Michelle..!” Ben terdengar sedikit memaksa. Aku tak bisa berbuat banyak, kecuali menunggu apa yang akan terjadi setelah aku berdiam disini tanpa berkutik—jika nanti semua kegalauanku akan terjawab, aku bersyukur. Ya, setidaknya itu yang kuinginkan untuk saat ini.
Aku membiarkan Ben membawa Volvo hitam-methalic-nya melaju lancar hingga memasuki  St. Rairoad Aveneu. Wajahnya tampak tenang. Aku tak hentinya memikirkan hal-hal apa saja yang akan aku lakukan nantinya, atau setidaknya aku harus bersikap bagaimana ketika aku menghadapi keluarga Ben nanti.
Aku mulai gugup saat mobil Ben memasuki sebuah pelataran kosong yang disekitarnya di tumbuhi rerumputan hijau dan bunga taman yang indah. Aku melihat rumah elegant bercat putih, sambil menunggu  Ben menuntun langkahku menuju rumah itu. Di dekat pintu rumah tampak papan yang tertulis ‘Kediaman Keluarga Johnson’.
Ben membuka pintu rumahnya, seluruh anggota keluarganya menyambutku dengan wajah gembira. Tak menyangka. Apakah keluarganya memang seramah ini dengan orang asing? Setidaknya seperti aku.
“Selamat datang..,” kata seorang pria berkulit putih—berambut pirang yang tersisir rapi. Cukup tampan dan muda, namun tampak lebih dewasa. Kata Ben ia adalah Ethan Johnson, ayahnya. Pikirku, Ethan Johnson terlalu muda untuk menjadi seorang ayah dengan seluruh anaknya yang tampaknya terlihat dewasa pada umumnya.
“Terimakasih..,” kataku padanya. Ia lalu tersenyum hangat dan ramah.
“Terimakasih kembali, Michelle. Kami telah mendengar tentangmu dari Ben,” sahut seorang perempuan cantik dan keibuan. Rambutnya ikal di bagian ujungnya. Aku tersenyum malu. Ia lalu memperkenalkan diri, ia adalah ibu dari Ben dan saudara-saudaranya di rumah ini. Namanya Emily.
“Dan..kami senang kau datang,” sahut gadis  cantik—sangat cantik hingga membuatku sedikit iri.
“Ini Catherina, adik perempuanku,” kata Ben memperkenalkan Catherina padaku. “Dan yang itu adalah Damon dan kekasihnya, Gloria,” lanjut Ben menunjuk ke arah Damon dan Gloria, dua orang yang pernah ku lihat tepat di gerbang kampus kemarin. Dua pasang mata yang seakan ingin menerkam. Setelah kuamati mereka semua berwajah seputih porselen.
Aku mencoba tersenyum ramah pada mereka, tapi mereka tak membalas. Tatapan mereka dingin, aku menundukkan wajah. Namun, Catherina mencoba meraih tanganku, membawaku menuju ruang keluarga bersama Ethan dan Emily, meninggalkan Damon dan Gloria. Catherina sangat ramah, menghiburku dengan leluconnya. Aku merasa nyaman di dekatnya meski baru saja berkenalan. Dan—well, namanya seperti nama belakang Sarah.
Pandanganku tertuju pada sebuah lukisan cat minyak berbingkai kayu berwarna emas, Napoleon Bonaparte—Pencetus kode Napoleon pada revolusi Prancis antara tahun 1715-1718. Lukisannya sangat indah dan berukuran jumbo dengan bingkai kayu mahoni terpajang di ruang tengah. Ku sentuh cat minyak pada canvasnya, tebal dan aroma catnya masih seperti baru. Tanggal pembuatan lukisan tertulis pada sudut kanan bawah tahun 1716. Yang entah bagaimana mereka merawatnya sehingga masih terlihat sangat indah dan sedemikian rupa masih terlihat baru. Sungguh menarik bisa menyimpan lukisan tua hingga selama ini.
“Rupanya kau juga pecinta seni ya, Michelle?” sela Ethan, ia masih menyunggingkan sepucuk senyum ramah. Wajahnya sama memikatnya seperti Ben.
“Lukisan ini sangat indah,” kataku mengagumi, menyentuh setiap detailnya.
“Ben juga pecinta seni, kau tahu?” sahut Catherina. “Ia memiliki cita rasa seni yang tinggi,” lanjutnya lagi. Ben tertawa geli.
“Tidak Cathy, jangan..” Ben mengelak malu.
“Oh, ya?” tanyaku penasaran.
“Ya, saat SMA ia pernah menjuarai sebuah lomba menulis puisi dan melukis,” kata Catherina semakin bersemangat. Aku tertawa, kulihat wajah Ben merona.
“Baiklah, Catherine. Kita harus meninggalkan mereka sekarang,” Emily memotong pembicaraan kami. Ia tersenyum padaku dan Ben.
“Ok, Michelle. Nanti kita akan bicara lagi..,” ucap Catherina padaku.
Kemudian, mereka bertiga meninggalkan kami berdua. Ben duduk disampingku, wajahnya terlihat ceria saat ini. Ia tersenyum manis, nikmat—memesonaku.
“Damon dan Gloria,” selaku.
“Ya?” Ben menyahut.
“Mereka itu yang pernah aku lihat di gerbang kampus bersamamu, bukan?” tanyaku dengan tatapan curiga padanya.
“Apa kau sedang menyalahkan aku, Michelle?” tanya Ben.
“Tidak, Ben. Jika benar orang yang aku lihat bersamamu tempo hari itu adalah Damon dan Gloria, lalu apa masalahmu sehingga kau menyangkal kesaksianku saat itu?” kataku seakan berlomba dengan napasku, mengingat hal yang menurut Becca semua itu adalah daya imajinasiku yang  terlalu tinggi.
 “Kau tidak mengerti akar permasalahannya, Michelle..,” timpalnya dengan sedih.
“Ya. Kau mungkin benar, aku tidak tahu apa masalahmu,” suaraku merendah. Mencoba memahami kemelut yang bergejolak dalam batinnya. Meski demikian, yang ada dibatinnya hanya kesedihan serta kekhawatiran terhadapku.
Ia lalu memandangku, wajahnya amat sedih dari yang sebelumnya kulihat. Tangannya yang halus dan dingin menyentuh pipiku. “Sekarang apa kau percaya padaku, Michelle?” tanyanya penuh asa.
Aku tak kuasa menahan segumpal rasa kagum dari dalam jiwaku ketika menatap dua bola matanya yang bersinar bagai berlian, namun sedikit redup karena kabut yang menyelimutinya. Aku hanya mengangguk, menurutinya. Meski aku tak tahu kekhawatiran macam apa yang dirasakannya.
“Aku berjanji akan menjagamu dengan hidupku..,” ucapnya mencoba meyakinkanku.
Sedangkan di sudut pintu aku melihat Gloria, tatapannya penuh amarah—ia menujukan tatapan itu padaku. Ia sedang memegang segelas anggur hitam, lalu ia pecahkan dihadapan kami.
Matanya memerah kehitaman, ia menjerit lantang sambil berjalan kearahku—sangat keras hingga membuatku sulit bernapas. Namun, Ben menepis tangan kiri Gloria yang nyaris saja menghantam wajahku. Mataku terbelalak—tak percaya, Ben mendorong tubuh Gloria hingga terpental jauh mengenai dinding. Dinding itu mungkin saja akan retak atau paling tidak Gloria akan terluka jika Damon tak dengan cepat menagkap tubuh Gloria. Entah sejak kapan Damon berada disana, gerakannya sangat cepat. Aku pun tak bisa menangkap kesimpulan sendiri kekuatan apa yang mereka miliki. Well, kurasa kesimpulan yang sangat tidak masuk akal.
Ethan, Emily dan Catherina kemudian datang melihat apa yang sedang terjadi. Mereka lalu membawa Gloria menjauh dari kami. Sedangkan Ben masih menenangkan aku dengan menggenggam tanganku. Aku tak mengerti, tapi aku rasa cahaya yang terpancar dari dua pasang bola mata Gloria dan Damon seperti menyimpan selaksa dendam terhadap…aku—barangkali. Tapi, mengapa?
Aku shock, sangat. Tak bisa berkata apa pun lagi. Ben mencoba menenangkan aku dengan membawaku ke atas, ke kamarnya. Bulu romaku berdiri, tak memercayai hal gila  ini. Tapi, mau apa lagi? Memang itulah yang terjadi. Kini aku yang bertanya-tanya dalam hati, menerka sambil menertawai diri sendiri dalam hati; mungkin aku sedang berada dikandang macan saat ini. Satu macan jinak, sedangkan dua macan lagi ingin menghabisiku dengan taringnya.
“Maaf dengan apa yang telah kau lihat tadi,” gumamnya, suaranya sangat pelan dan menyesal. Aku terdiam, tubuhku masih gemetar. Ia menatapku, wajah kami bertemu sejajar. “Aku telah berjanji..,” ujarnya semakin dalam ketika melihatku meneteskan air mata karena rasa takutku yang sekonyong-konyong menyelinap masuk dalam jiwaku. “Dengarkan aku, aku bersumpah akan melindungimu. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu..,” katanya.
Aku hanya mengangguk, tak mengerti. Tapi tak banyak yang dapat kuperbuat akhirnya aku hanya bisa pasrah dan menyerahkan masalah ini padanya—karena yakin memang terdapat masalah.
Ia berusaha menghapus tetesan-tetesan kecil di pipiku dengan sapu tangan miliknya. Sapu tangannya tercium aroma menenangkan olehku. Sangat nyaman ketika ia mengusap-usap selembar kain putih itu di pipiku, hingga aku ingin memejamkan mataku yang lelah di pundaknya.
Aku menunduk menatap tangannya, ia menggerak-gerakkan tangannya yang berkilauan dengan lembut diatas telapak tanganku.
“Sungguh, aku tak ‘kan sanggup lagi melihat air matamu, Michelle,” bisiknya.
“Kau pasti tahu permasalahannya, Ben!” erangku. “Apa yang sesungguhnya ingin kau tunjukkan padaku?” tanyaku tak sabar, kesal.
Kemudian Ben menuntunku ke sebuah ruangan bawah tanah yang berada tepat di bawah kamarnya. Tempat itu amat usang, aku mencium bau debu di sela-sela benda sekitar ruangan. Ben menyalakan lentera, sinarnya kuning keemasan. Ia menunjukkan sebuah lukisan lawas, lukisan seorang wanita muda dan cantik berpakaian bangsawan abad ke-17. Tahun pembuatan yang  kulihat pada lukisan, 1797.
Aku menatap lukisan itu cukup lama.
Setelah kuamati baik-baik, wajahnya sangat mirip denganku. Hanya saja, warna rambutnya coklat keemasan dan ikal diujungnya. Aku teringat, wanita yang ada pada lukisan ini adalah wanita yang pernah muncul dalam mimpiku beberapa kali.
Ben melihatku tampak sangat kebingungan. Tangannya yang dingin menyentuh pergelangan tanganku. “Namanya adalah Elizabeth. Elizabeth Morgan.,” katanya semakin menatapku.
“Elizabeth Morgan?” tanyaku. Aku membiarkannya masih menggengam pergelangan tanganku.
“Elizabeth meninggal tahun 1799, setahun setelah kami bertunangan—dan tanpa sepengatahuan orangtua Eliza, alasannya karena orangtuanya melarang kami berhubungan.” Cahaya yang mengenai wajah Ben meredup, menyelinapkan sudut-sudut kesedihan yang purba.
“Bisakah kau jelaskan mengapa ia meninggal, Ben?” tanyaku menyela. Wajahnya makin sedih. Suasana kurasa makin senyap.
“Cinta kami hancur saat Arnold Paole hadir, ia jatuh cinta pada Eliza dan menculiknya. Ia membawa Eliza masuk kedalam istananya, sehingga terlambat bagiku untuk menyelamatkannya. Ia bunuh diri setelah disekap dalam sebuah kastil tua. Lalu aku bertemu dengan Ethan Johnson dan istrinya Emily, mereka mengadopsiku. Hingga aku bertemu dengan Catherina, Damon dan Gloria tahun 1798,” kisah Ben padaku. Aku semakin takut, kesal, marah, sedih semuanya membaur menjadi satu—aku tak mampu mengelak.
“Siapa itu Arnold Paole?” tanyaku dengan suara gemetar.
“Dia adalah seorang dari bangsa vampir saat masa Kekaisaran Austria. Ia pergi dari segala penjuru dunia mencari wanita yang ia anggap cocok untuk mendampinginya,” jawab Ben membuatku ngeri. Aku mengernyitkan kening, mencoba berpikir tentang ini.
“Tapi itu hanya sebuah legenda. Aku tidak bisa memercayai hal ini,” kataku, kesal.
“Itulah yang terjadi, Michelle..,” erangnya. “Tak mudah bagiku untuk melupakan semua itu dalam hidupku setelah kulalui bertahun-tahun, namun tak mudah juga untukku mengingatnya. Wajahmu sangat mirip dengannya, sikapmu, aroma tubuhmu, semua bunga yang kau suka.., aku sangat mengingatnya,” ucapnya sambil memejamkan kedua matanya, lalu membukanya kembali—penuh penhayatan saat ia melakukannya. Aku menatap matanya, kupahami bagaimana perasaan yang ia pendam selama tiga ratus tahun yang ia lalui.
“Oh, Ben. Maafkan aku,” pintaku menyesal. “Harus kuakui ketakutanku saat ini,” aku mengakuinya, dan pikiran konyolku tak dapat kutepis bahwa aku ingin segera pergi dari tempat ini.
“Karena itu aku mencarimu,” ulangnya lagi. “Karena aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu sedikit pun,” ucap Ben terdengar seperti dendam dalam hatinya. Aku sedikit kecewa padanya. Sulit kupercaya ini. Sangat.
“Apakah kau salah satu dari bangsa mereka?” tanyaku terbata. Ben menunduk, mengerutkan kening. Aku merasa sedikit bersalah atas pertanyaanku. Namun, tak ada pilihan lain bagiku.
“Ya,” timpalnya sedih. “Aku dan keluarga Johnson adalah bagian dari mereka. Namun, kami berusaha untuk tidak menjadi anak Iblis dengan membunuh atau mengganggu bangsa manusia,” katanya menjelaskan perlahan.
Apa? Kenapa?” tanyaku terdengar lebih seperti introgasi.
“Karena kami tidak ingin memperburuk takdir kami dengan membunuh manusia yang tak berdosa,” ucapnya sedih.
 “Aku tidak percaya ini!” ucapku setengah berteriak.
“Percayalah, Michelle. Kau tidak perlu meragukan diriku, atau menghindar dari semua ini. Kau-lah reinkarnasi dari jiwa Elizabeth. Inilah yang kumaksud bahwa kau harus menerimanya,” tekannya meyakinkan aku sambil meraih kedua tanganku dan menciumnya.
“Tapi, aku takut..,” kataku masih dengan suara gemetar. Ben menarik tubuhku dengan lembut, mendekatkan wajahku di wajahnya.
“Kau tidak perlu takut, Michelle. Aku telah bersumpah untuk melindungimu, aku pun bersumpah tidak akan menyakitimu,” katanya. Tak banyak yang bisa aku lakukan, aku hanya seorang gadis kerdil yang menangguh hidup sendiri di kota kecil ini. Dan kini hidupku berubah drastis setelah bertemu dengan makhluk yang sosoknya nyaris menyerupai dewa ini.
“Iya. Aku percaya padamu,” kataku akhirnya setelah aku bergelut dengan kegalauan dalam benakku sejenak, dengan diriku, dengan kenyataan yang ada. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sambil menitikkan air mata yang sejak tadi tak kuasa kutahan. Sekali lagi Ben mengusapkan jemarinya yang indah di pipi dan kelopak bawah mataku yang basah—hingga mascara yang kupakai melebur jatuh dibawahnya.

Ben membawaku  kembali kerumah setelah aku merasa sedikit tenang. Sepanjang jalan kuhabiskan waktuku untuk melamun, Ben membiarkan aku menatap keluar jendela mobilnya. Meski begitu aku amat sangat sadar apa yang terjadi dengan diri dan jiwaku saat ini.
   Kali keduanya Ben membantuku berjalan memasuki rumah. Ku berikan kunci rumah padanya, dan ia membukakan pintu untuk kami masuk. Ia membawaku hingga kamar dan membaringkan tubuhku.
“Temani aku sejenak, ceritakan riwayat hidupmu dulu padaku,” pintaku sambil menarik pergelangan tangannya. “Dengan lengkap tentunya,” tambahku. Walau kulihat di wajahnya sedikit berat, tapi ia menerima pintaku dengan senang hati, setidaknya itu tampak ketika ia tersenyum.
“Baiklah. Apa yang ingin kau ketahui lagi dariku?” Ben duduk disamping pembaringanku.
Aku terkesiap, kemudian duduk sejajar dengannya. Meletakkan dua telapak tanganku di atas paha, bersiap menyimak kisahnya. Kini aku tak merasa takut lagi, walau sedikit konyol tapi harus kuakui makhluk indah ini telah membuatku percaya padanya—seperti sihir.
“Kau suka musik 70-an? Atau delapan puluhan mungkin?” tanyaku akhirnya.
“Ya, termasuk sastra yang mulai lahir pada era Elizabethan atau Abad Pertengahan. Di era ini literature berkembang pesat, khususnya dalam bidang drama,” Ben membuka ceritanya.
“Elizabethan..,”  kataku terpukau dan menatapnya seperti seorang anak TK yang polos, aku menatapnya dalam-dalam—melipat tangan dan bersiap menyimak cerita Ben Johnson.
“Ketika Renaissance Italia telah menemukan kembali Romawi kuno Yunani dan teater, hal ini berperan penting dalam perkembangan drama baru yang kemudian mulai berkembang terpisah dari misteri lama dan memainkan keajaiban dari Abad Pertengahan. Kau tahu, orang-orang Itali sangat terinspirasi oleh seorang penulis drama tragis besar dan filsuf bernama Seneca, dan Plautus seorang penulis komik klise,” kata Ben membuatku terpana dengan pesona matanya—juga semua yang dapat kulihat dengan jelas diwajah tampannya yang sungguh memikat.
“Lalu, apakah sastra yang dikembangkan oleh orang-orang Italia ini berjalan baik?” tanyaku.
“Tidak  juga. Ternyata tragedi Italia menganut prinsip yang bertentangan dengan etika Seneca, drama mereka menampilkan darah dan kekerasan diatas panggung. Namun, seorang dramawan Inggris Giovanni Florio tertarik pada aliran ini,” katanya sambil tersenyum menatapku. “Aku dan Eliza pengagum drama, sastra dan musik klasik. Kami mengagumi William Shakespeare, ia penyair dan dramawan yang tak tertandingi pada era itu. Menurut sebuah surat kabar yang kubaca ketika itu, pada masa pemerintahan James I  ia telah sukses menulis karya-karyanya yang diantaranya; Hamlet, Romeo dan Juliet, Othello, King Lear, Macbeth, Anthonius dan Cleopatra. Kemudian The Tempest, sebuah tragikomedi yang menggabungkan drama utama kontes brilian persembahan kepada raja yang baru,” Ben menghela napas sejenak, mengatur frekuensi suaranya. Aku hanya menyimak dengan baik celotehannya, wawasannya cukup luas tentang dunia sastra.
Meski akhirnya aku merasa sedikit agak aneh karena ceritanya  melantur dari yang ingin aku ketahui tentang dirinya, well mungkin ini permulaannya.
“Drama cinta yang sangat fenomenal saat itu adalah Romeo dan Julia,” lanjutnya. “Kami begitu mengagumi kisah mereka. Aku tak tahu apa yang terpikir dalam benakku saat aku mendengar Eliza meninggal bunuh diri,” Ben menertawai dirinya sendiri sambil melihat kearahku.
“Dan kau mencoba bunuh diri juga..,” tebakku seketika saja. Berkata tanpa berpikir lagi—kuanggap itu konyol.
“Ya, kau benar,” katanya masih tertawa. Seakan menganggap ini lelucon baginya.
“Dan..?” tanyaku serius.
“Dan Ethan menemukan aku saat aku mencoba bunuh diri di sebuah tebing, tahun 1798. Ia  sangat baik. Sedangkan aku lahir di London tahun 1785, asal-usul keluargaku tak jelas—orangtuaku membuangku disebuah panti asuhan. Sampai aku bertemu dan jatuh cinta pada seorang gadis bangsawan Inggris seperti Eliza,” ia berhenti sejenak. Aku menunggu penjelasan berikutnya.
“Seperti yang telah kami duga, orangtua Eliza tidak menyetujui hubungan kami karena status sosial kami berbeda—seperti yang telah kukatakan tadi padamu. Tapi aku teramat dalam mencintainya hingga kami bertunangan diam-diam. Seseorang telah berkhianat kepada kami dan melaporkan hal ini pada ayahnya. Kemudian, kedua orangtua Eliza menjodohkannya dengan seorang saudagar kaya dari Prancis. Namun, itu tak bertahan lama. Arnold Paole telah menculik Eliza saat  malam pernikahan mereka. Dia membawanya, Eliza tak tahan dan menukarkan semua itu dengan jiwanya—ia bunuh diri,”  kata Ben sambil merapatkan genggaman tangannya.
“Tidak, kupikir ia bukan bunuh diri. Aku melihatnya, ia terpeleset di sebuah jurang ditepi laut dan jatuh,” selaku tanpa ragu. Ben menatapku, heran.
“Kau berkata seakan kau pernah melihatnya?” tanya Ben.
Aku memutar dua bola mataku. “Ya, melihatnya dalam mimpiku,”  jawabku yakin. Lalu ia menunduk sedih.
Aku tak bisa berbuat banyak, hanya mengusap bahunya sesekali—bermaksud sekadar meringankan kesedihannya.
“Bagaimana Ethan.., emm... maksudku bagaimana ia menyelamatkanmu saat itu?”
“Itu sedikit sulit. Ia sangat baik. Sebagian dari kami tidak semuanya dapat mengendalikan diri. Tapi diantara kami hanya Ethan Johnson yang menjadi sangat manusiawi dan sangat penuh kasih diantara kami. Ia sangat baik, bagi kami ia seorang guru—seperti lebih dari sekadar kepala keluarga,” jelasnya. Aku mencoba mengerti dari mimik wajahnya, ia tak ingin meneruskannya.
“Kita selalu tak pernah tahu apa yang akan terjadi nantinya, kita cukup memikirkan hal-hal terbaik apa yang harus kita lakukan esok hari dan selanjutnya. Well, hidup sangat tergantung pada takdir atau kita yang akan menentukan takdir,” kataku. Ia menatapku, bahkan pikiranku sangat fokus terhadap makhluk indah ini.
“Ya,” timpalnya. “Tapi kini seorang makhluk tanpa jiwa sedang ada di hadapanmu..,” ucapnya menakutiku. Seakan ia menyadari betul siapa dirinya sesungguhnya. Kemudian raut wajahnya kembali bersedih.
“Apa kau merasa  keberatan menjadi dirimu saat ini, setidaknya sebelum atau sesudah kau bertemu dengan Ethan Johnson?” tanyaku.
Ia terdiam sejenak, menunduk lalu mendongak ke langit-langit kamar dan menghela napas panjang. “Tidak. Ini takdirku. Aku berpisah dengan Elizabeth, lalu bertemu dengan Ethan Johnson.., itu semua takdir. Mungkin aku, atau Ethan adalah bagian dari bangsa vampir yang tak memiliki jiwa. Namun, kurasa kami masih dikategorikan berperasaan seperti manusia kebanyakan.” Ia tersenyum simpul, tapi yang kurasakan ia begitu sedih.
“Damon dan Gloria, apa kau mengenal mereka dengan baik?”
“Damon, saat tahun 1760  ia mengalami hidup yang sangat berat, orangtuanya bercerai dan menelantarkannya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan kami tahun 1799—aku telah menganggapnya seperti adikku,” jelasnya pelan.
“Sepertinya Gloria memiliki kelebihan,” ucapku menyela pembicaraannya.
“Aku tahu kau bisa ‘membacanya’. Dia memiliki kelebihan yang unik, jeritannya bisa memecah gendang telinga atau dapat membuat paru-paru dan jantungmu pecah. Sedangkan Damon, tatapan matanya bisa menghipnotis siapa saja,” jelasnya padaku. Aku terdiam sejenak. Lalu ia meneruskan, “Dan.., Catherina dapat membaca pergerakan atau strategi lawan dari jarak jauh maupun dekat.”
“Dan.., kau?” tanyaku tersenyum menggodanya.
“Kelebihanku hanya sebatas dapat melihat masa depan, tak lebih..,” ia merendah.
“Bukankah itu hebat?”
Tidak. Itu hanya digunakan pada saat terpenting saja, Michelle. Lagi pula sebuah gambaran masa depan tidak diperbolehkan untuk ditunjukkan pada siapa pun, terlebih lagi pada manusia,” katanya.
 “Mengapa?” tanyaku, menatap wajahnya dengan serius.
“Karena manusia tidak memiliki hak serupa. Manusia tidak ditakdirkan untuk membaca masa depan, bila manusia dapat meramalkan masa depan maka keseimbangan hidup akan terganggu. Itulah yang akan terjadi,” tukasnya.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala menyimak penjelasannya, hingga aku mampu membuatnya yakin bahwa aku telah mengerti. Kami menghabiskan sisa malam dengan bercerita. Ben juga sempat menceritakan masa kecilnya yang suram namun terdengar sangat  klasik. Sesekali kami tertawa, terkadang aku masih melihatnya menundukkan wajah dan menyembunyikan beban yang aku tak tahu apa atau darimana beban itu.
Muncul keinginan dalam benakku untuk membuatnya agar selalu merasa bahagia. Makhluk ini terlalu indah untuk kuperlakukan apa adanya, terlalu memesona untuk tak memandangi wajahnya walau hanya sekali, semenit, sedetik sekalipun. Aku tak kuasa  menolak sikapnya yang hangat, penuh perhatian, dan suaranya yang begitu memikat.
Aku mencoba menyandarkan tubuhku di tumpukan bantal, ia berhasil membuatku merasa puas karena ceritanya. Ia membelai lembut rambutku sambil menyanyikan sebuah tembang lawas enam puluhan yang tak kuketahui jelas  judul atau penyanyinya. Katanya, lagu itu sangat di gemari anak remaja pada masa itu. Aku terhanyut, suaranya yang begitu pelan mengantarku tidur. Menurutku ia lebih pantas di sebut seorang ayah yang memiliki sifat keibuan. Well.., tapi sesungguhnya aku merasa lebih baik untuk saat ini.
“Baiklah, kupikir cerita-cerita vampir itu hanyalah mitologi atau kisah konyol belaka. Kau tahu, aku sedikit tak suka cerita ini..” ucapku dengan nada jengkel—akhirnya.
Ben tertawa geli, aku tampak bodoh dibuatnya.
“Apa yang kau tertawakan?” kataku lebih jengkel. “Kau tahu? Ibuku selalu menceritakan tentang vampir yang..., sedikit kuno. Vampir umumnya diceritakan keluar dari makamnya pada malam hari untuk menggigit orang-orang dengan taringnya yang panjang dan mengisap darah mereka. Dan..., korban yang digigitnya biasanya akan menjadi vampir juga. Menurut beberapa mitos, vampir tidak tampak di cermin karena mereka tidak memiliki jiwa. Dalam cerita fiksi modern, vampir bisa menjelma menjadi kelelawar, serigala, bahkan gumpalan gas, dan harus menjauhkan diri dari sinar matahari. Ini gila..”
“Tidak. Itu hanya.., legenda yang dibuat oleh orang Eropa. Vampir tak menjelma menjadi kelelawar, serigala atau gumpalan gas,” jelasnya sambil tertawa ringan. “Bangsa kami hanya, iblis..” tekannya sedih.
“Iblis?” Aku beranjak dari sandaranku dibahunya. Apakah ia mengucapkannya dalam kondisi sadarkan diri? Gila.
“Ya,” jawabnya dengan sangat jelas—singkat. “Apa kau merasa takut?” tanya Ben terdengar seperti menguji keyakinanku padanya.
“Tidak,” walaupun jawabanku yang sebenarnya adalah ‘iya’. “Jika denganmu..” tambahku demi kulihat senyum di wajahnya.
“Lalu, apa kau meminum darah?” tanyaku mengulang pertanyaan yang telah aku lontarkan dirumahnya tadi. Berusaha mengalihkan tapi tampak semakin terlihat bodoh.
“Ya,” jawabnya.
“Darah manusia??” tanyaku tak sabar-penasaran.
 “Ya,” jawabnya datar dan tersenyum.
Aku berkali-kali berkata dalam hati ‘ini gila, ini tak masuk akal’.
“Tapi.., kami keluarga Johnson, berusaha tak membunuh manusia. Bagi kami itu sungguh tak lazim, dan tindakan terkutuk. Kami membeli dua puluh kantung darah di rumah-rumah sakit tiap bulannya. Tapi, itu tak pasti. Kami harus berpuasa tidak meminum darah selama satu atau dua bulan, dan menggantinya dengan darah dan daging mentah hewan yang masih segar,” jelasnya membuatku yang sesungguhnya aku takut.
Ben Johnson tertawa, menganggap ini lelucon. Ia berusaha untuk tak terlihat kaku ketika ia menceritakan hal yang kuanggap gila ini. 
“Darah? Sepertinya aku ingin muntah,” kataku menutup mulut. Ben menertawai tingkahku.
“Emm.. kupikir kau harusnya tidur,” katanya sambil membelai rambutku.
“Ya, aku tahu..”
“Dan aku akan pulang. Aku akan keluar melompat dari jendela ajaib ini,” tambahnya dengan nada lelucon lagi.
“Oh, satu hal yang sangat ingin aku tanyakan lagi padamu,” kataku saat Ben akan melangkah pergi, ia mengurungkan niatnya dan kembali duduk di dekatku.
Anything,” ucapnya tersenyum.
“Kau belum menceritakan bagaimana kau pertama kali mengenal Elizabeth? Aku hanya sekadar ingin tahu, apa kau keberatan?” tanyaku.
“Itu.., sudah lama sekali sejak temanku Fabrizio mengajakku bekerja di sebuah industri tekstil kecil milik pamannya,” kata Ben suara merdunya berangsur pelan. “Aku bertemu dengannya saat pertama kali aku melihatnya sedang duduk  menyendiri di balik jendela kamarnya. Saat itu, 23 Januari 1971 sepulangku dari bekerja di sore hari tepat mentari akan terbenam kami pertama kali bertemu. Elizabeth sangat cantik, kulitnya putih mulus bak pualam. Ia wanita Inggris tercantik yang pernah kulihat, ia tak pernah melihat dari kekuranganku—dari pakaianku yang tiap kali bertemu dengannya lebih terlihat lusuh,” ia berhenti, tertawa menertawakan dirinya.
“Sejak saat itu kami menjadi semakin dekat, sepulang dari bekerja aku selalu menemuinya terlebih dahulu dari balik jendela kamarnya. Kami saling mengirimkan secarik kertas dengan puisi,” Ben melanjutkan, ia tersenyum tapi juga ingin menangis.
“So nice,” aku terharu mendengarnya. “It’s okay. Everyone that has memorizes, maybe that sadness, love, or everything. Yes you can save that on your mind, in your soul,” kataku, terdengar lebih optimis saat memberinya semangat. Aku membelai bahu tangannya perlahan. Aku mulai menyukai Ben Johnson yang entah dari sudut mana. Aku terus saja menggumamkan itu dalam hati. Tanpa kusadari, aku pun berharap ingin membuat makhluk indah ini merasa bahagia saat ini.


Sepertinya Damon dan Gloria jelas tidak menyukaiku, ya?” tanyaku pada Ben. Ia memutar bola matanya. Ia mencoba sedikit menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telingaku setelah membaca situasi kelas yang jelas tak kondusif.
“Percayalah, mereka bukan tak menyukaimu..,” bisiknya amat pelan untuk kudengar. “Tapi mereka khawatir dengan keselamatanku, dan pastinya kami akan berhadapan dengan Arnold Paole suatu saat. Atau karena satu hal lagi karena aku telah melanggar aturan bangsa kami,” katanya sambil menatap wajahku.
Aturan..?” tanyaku, aku menggernyitkan kening.
“Benar. Adalah larangan bangsa kami berhubungan dengan bangsa kalian. Jika berani melanggar maka ia akan bersiap dipenggal mati. Dan, aku akan mati sebagai makhluk terkutuk,” Ben bersedih, aku sama halnya. Aku tak ingin melihatnya begini.
“Kecuali..,” ia berhenti sejenak dan mengatur napas. “Jika kau bergabung dengan kami,” katanya membuatku takut dan takut. “Tapi aku tak ingin hal itu terjadi. Biarkan aku yang berkorban untukmu—dengan menentang aturan mereka.”
“Ben, tak perlu kau lakukan apapun,” bisikku.
“Aku tak peduli seberat apapun akan kuhadapi nanti,” ia berkeras.
Tiga mata kuliah hari ini ku jalani bebas tanpa masalah, semua tugas dapat  kuselesaikan dengan tuntas. Aku lega entah apa, mampu sedikit menjaga jarak dengan Ben Johnson. Dan, ini memasuki bulan ketiga setelah aku mengenal Ben Johnson. Sepulang dari kampus aku memintanya untuk tak mengikutiku hari ini, aku bilang jika aku akan pergi bersama Becca dan Kaori.
“Kau yakin akan ikut kami, Michelle-san?” tanya Kaori. Aku mengangguk, yakin.
“Baiklah..,” kata Kaori setelah menghela napas beberapa detik. Wajah tirusnya tampak santai, menyetujui keinginanku untuk ikut pergi bersama mereka. Entahlah, aku pun kurang begitu jelas mereka hendak pergi kemana. Mereka bilang, hanya ingin melepas penat sejenak.
Sebenarnya ini ide dari Kaori. Kaori adalah mahasiswa pindahan dari Tokyo University, ia baru satu tahun berada di Louisiana. Entah apa yang membuatnya tertarik pindah ke kota kecil ini. Meski demikian, bahasa Inggris-nya cukup lancar, namun  struktural bahasa Perancis-nya masih banyak yang perlu diperbaiki. Tapi, menurutku dia gadis yang cerdas dan sangat bersemangat—ku pikir hampir semua orang Jepang begitu, memiliki kesamaan sifat ceria, beresemangat, juga kreatif.
Aku juga mulai menyukai gadis ini. Dia berbeda dengan Becca yang cerewet. Maksudku bukan berarti Yamada Kaori pendiam atau sebaliknya. Ia hanya bicara seperlunya, dan tidak ‘berisik’ seperti Becca. Tapi gadis secerewet Becca hanya ingin lebih diperhatikan dari yang lain. Sebab yang aku dengar dari teman-teman, keluarganya broken home.
Mungkin ini terdengar lucu, namun terkadang aku ingin menjadi seorang ibu baginya. Entahlah, ia selalu membuatku tersentuh. Sedangkan Kaori, seperti yang aku katakan ia sebaliknya dari Becca. Kaori punya keluarga yang menyayanginya, berkecukupan. Ayahnya Yamada Imamoto bekerja sebagai konsulat Jepang di New York.
“Akhir-akhir ini kau terlihat dekat dengan keluarga Johnson, Michelle?” tanya Kaori ketika aku akan merekatkan sabuk pengamanku.
Well.., ya..,” aku mengakuinya. Mereka tergelak, dipikirnya ini lucu. Padahal apa yang terbendung dalam benak ini selalu saja menggelitik ingin bertanya.., terus saja bertanya apakah aku jatuh cinta pada Ben Johnson? Apakah aku sungguh ‘begitu’ padanya? Namun selain dari kesemuanya itu, aku merasakan ‘suatu petaka’ besar sedang memburu jiwaku. Entah kehadiran Ben Johnson dalam hidupku berkah atau musibah?
“Sepertinya Ben Johnson juga menyukai Michelle, kau tahu?” timpal Becca memulainya lagi.
“Oh, ya?” Kaori menanggapinya lebih serius dari yang kukira, ia tergelak. Becca mengikutinya, sedang aku hanya tersenyum menunduk, menyembunyikan pipiku yang memerah karena tersipu. Tak tahu harus mengatakan apa lagi pada mereka—aku tampak seperti orang bodoh saat ini. Meski dalam hati aku pun sempat mengakuinya lebih dari itu. Ini gila, menurutku.
“Baiklah. Apa kita akan bersenang-senang hari ini?” kata Becca menyelah.
“Kupikir, ya..,” timpalku.
Kaori mulai menyalakan mesin mobil, aku membuat diriku senyaman mungkin duduk di bagian depan. Sedangkan Becca duduk di belakang kami, ia tampak sangat menikmati suasananya. Aku, seperti biasa—memandang keluar jendela sambil memikirkan segala hal apa pun bentuknya yang melintas di otakku.
Aku mulai memikirkan Ben lagi, aku ingin mengakuinya pada diriku sendiri. Sungguh.  Bahkan lebih dari sekadar memikirkannya. Entahlah, tiap kali aku ingin bersamanya selalu saja ada pertentangan yang amat kuat dalam dadaku.
“Kau tampak aneh akhir-akhir ini, Michelle..,” suara lembut Becca membangunkan lamunanku. “Apa kau.., sakit atau…”
“Ya…, well…, kurasa tidak juga,” kataku, dengan suara agak serak.
“Kurasa itu karena Ben,” timpal Kaori meledekku lagi.
“Yeah…” Becca menambahinya lagi.
“Hei…, adakah hal lain yang dapat kita bahas selain dia?” kataku tergelak, mereka makin kompak menertawaiku yang tampak seperti seorang gadis yang baru saja jatuh cinta dan amat pemalu.
Well, pertama kita akan ke meseum Victoria. Setelahnya mungkin kita akan makan malam,” kata Kaori.
“Ok, aku setuju. Kita akan pergi ke Museum Victoria dulu,” kataku mengulangi kata Kaori. Kulihat Becca juga mengganggukkan kepala. Kaori segera menancap gas mobil dan sesegera mungkin agar laju mobil tetap stabil dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam.
Tak lama, kami telah sampai di Museum Victoria di St. West Louis. Museum ini adalah salah satu museum tertua di Louisiana, dan yang paling bersejarah. Arsitruktur bangunannya dirancang oleh seorang arsitek asal Spanyol tahun 1877. Begitu memasuki ruangan demi ruangan di museum ini membuat bulu romaku berdiri, jantungku berdetak lebih cepat—aku tak mengerti.
Langkahku menyusuri ruangan gelap namun separuh tersisir oleh cahaya matahari, di dalam gelap aku seperti melihat sosok pria berjubah hitam. Aku tak menghiraukannya, tangannya yang panjang seperti ingin meraih tubuhku. Aku pergi dari ruangan itu. Aku memacu langkahku agar mampu lebih cepat—mencari keberadaan kedua temanku tadi. Namun, aku tak menemukan Kaori dan Becca. Yang aku temukan hanya sebuah buku usang bersampul coklat berbahan kulit lembu yang jatuh dihadapanku. Langkahku terhenti, kemudian kuambil buku itu—kubaca, penasaran dengan apa isi buku ini.
Semua terasa amat gelap, kepalaku seperti  tertekan benda keras seberat 5 kilogram—sangat pusing. Pandanganku kabur, sepertinya ini terjadi kembali. Sekejap, semua sudut ruang tak terlihat sebercak cahaya sama sekali. Sesuatu yang asing telah membawa arwahku pergi seperti melayang-layang ke udara—hingga dapat kulihat semua jiwa yang mati dan yang hidup.
Aku melihat Becca dan Kaori yang baru saja menemukan tubuhku yang terbaring di dekat ornamen-ornamen Italia—di samping kirinya berderet jelas rak buku tertata rapi. Mereka memanggil namaku berulang kali, aku berusaha membangunkan diriku sendiri. Bayanganku mencoba meraih tubuh kasarku, tapi berulang kali kucoba tetap tidak bisa.
Hingga beberapa bayangan gelap dari arah lain menimpaku, aku terjatuh tepat di atas tubuh kasarku. Kali ini kucoba membuka mata perlahan.
“Hey, Michelle..! Aku sangat khawatir padamu, kau tahu? Apa yang kau lakukan di ruangan gelap tadi?” cecar Rebecca padaku.
Take calm dawn please.., Becca! Michelle masih berusaha..,” timpal Kaori.
“Baiklah, Nona Tenang..” tampak Becca menghela napas panjang. Wajahnya tampak risau, tetapi Kaori justru sebaliknya.
“Kau harus minum ini dulu, Michelle,” kata Kaori mengambilkan segelas air putih. Aku menurutinya, tanpa banyak bertanya.
“Dengar, kita harus segera membawamu pulang, Michelle” kata Becca masih tampak was-was.
“Tidak, aku baik saja. Trust me! Aku hanya…, entahlah..” sekeras aku ingin mencoba mengingat, tapi kepalaku terasa nyeri.
It’s ok, Michelle! Jangan terlalu  memaksakan dirimu. Kami akan membawamu pulang,” kata Kaori dengan sikap keibuannya. Aku mengangguk, menuruti nasihatnya. Mungkin ini akan bisa membuatku lebih baik.
Lalu, mereka membantuku berjalan memasuki mobil. Mereka membaringkan aku di belakang. Saat kurasa mesin mobil menyala dan kurasa mobil mulai menelusuri jalanan kota Louisiana, aku mencuri dengar pembicaraan mereka. Aku pura-pura tertidur dengan mengkatupkan sweter coklat milikku diatas wajahku.
“Kau tahu, aku sungguh panik! Kau lihat tadi, ia membentur-benturkan kepalanya sendiri ke dinding. Ini gila!” oceh Becca setengah berbisik.
“Aku tahu itu. Tapi, bisakah kau tidak membahasnya sekarang?” Kaori menaikkan nada bicaranya, berusaha agar sahabatnya yang cerewet ini tenang dan bersikap dewasa.
Aku mengintip dari balik sweeter berwarna coklatku, kulihat Becca sedang minggigiti kukunya. Ia tampak kikuk dan sedih juga sepertinya. Sedangkan Kaori Si Nona Tenang tetap fokus pada kemudinya.
Aku memutar otak, masih berusaha keras untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi padaku. Kepalaku masih terasa sakit, semua kejadian ini membuatku bingung. Sejauh ini yang bisa aku ingat hanyalah ketika aku berada disebuah bangunan tua berarsitekturkan Eropa klasik, ah..bukan. Itu hanyalah Museum Victoria di St. West Louis.
Aku masih memengangi kepalaku yang terasa amat sakit—kali ini jiwaku serasa lebih goyah dan rapuh. Aku berdo’a semoga ini tak akan membuatku gila atau hilang nyawa. Kucoba pejamkan mata bermaksud agar perasaanku lebih tenang—tapi aku masih mendengar mereka berdua beredebat. Dari suara yang aku dengar, Becca begitu khawatir terhadapku. Sedangkan Si Nona Tenang hanya diam meskipun mungkin dia juga tetap merasa khawatir.
Wait,  sepertinya aku mengingat sesuatu..” kata Becca pada Kaori memecah keheningan diantara mereka.
Well, apa itu?”
“Aku berhasil mencuri ini dari Museum Victoria..,” Becca menunjukkan sesuatu yang ia ambil dari dalam tasnya. Kedengarannya benda yang sangat penting sehingga ia mencurinya dari Museum Victoria.
“Apa? Kenapa kau lakukan ini Becca? Gila.” Suara serak Kaori terdengar sangat kesal pada Becca. “Well, lalu apa hubungan benda itu dengan kejadian ini?” katanya setelah menarik napas panjang.
Aku sadarkan diriku kembali dibalik sweeter tebalku, aku memasang indra pendengaranku sejelas mungkin.
“Ketika ia pingsan, ia memegang buku tebal ini. Setelah aku membacanya, barulah aku mengerti buku ini sebuah buku harian, dan pemiliknya adalah seorang wanita bernama Elizabeth Morgan..” ceritanya pada Kaori dengan suara setengah berbisik.
“Apa?” Kaori terkejut. “Coba kau lihat tanggal penulisan buku harian itu, apakah tertera dibawahnya?”
“Baiklah. Ini tahun 1763 sampai 1796. Cukup lama..” desah Becca seolah ia tak memercayai hal ini. “Dan, satu lagi. Ada sebuah lipatan kecil, sebuah lukisan lipat. Lihat! Ini.. Pria tampan ini, sepertinya aku pernah melihatnya, kau tahu? Seperti..., seseorang yang kita kenal..”
“Mungkinkah Ben Johnson? Ah..tidak mungkin..” Kaori menyahut dan tebakannya kurasa tak meleset.
“....I think, I’m so crazy now,” gumam Becca putus asa. Terdengar Becca membanting buku harian itu ke belakang jok mobil tepat di dekat pembaringanku.
“Sebaiknya kita tidak perlu memikirkan hal ini, tolong jangan katakan ini padanya. Ini pasti tidak akan berlansung baik,” Kaori mencoba optimistis jika tak memberitahuku tentang hal gila ini, walau aku telah mengetahuinya secara diam-diam.
Mereka berhasil mengantarku pulang kerumah, namun mereka lengah ketika aku mencuri diam-diam buku harian itu dan aku dapat bernapas lega karena sebisa mungkin  memasukkannya kedalam tasku. Jika mereka mengetahui bahwa aku telah mencurinya, kurasa mereka jauh lebih marah dari yang aku bayangkan.
Kulihat mereka sedang berbicara diluar mobil, ditanah lapang dengan rerumputan yang berada di halaman depan rumahku. Wajah Becca dan Kaori tampak sangat serius, kulihat Kaori sedang menekan beberapa angka di ponsel miliknya, aku tak tahu jelas siapa yang ia telepon saat ini. Tapi dari mimik wajahnya ia seperti mencoba menerangkan apa yang terjadi pada kami hari ini.
Tak berselang lama mobil Volvo hitam methalic beserta plat nomornya yang tak asing bagiku datang. Kecepatan mobilnya melesat cepat hingga meninggalkan garis lengkung di rerumputan ketika ia menginjak pedal  rem. Dan, sudah kuduga pemilik mobil itu adalah Ben Johnson yang kukenal.
Mereka bertiga tampak berbincang sejenak, wajah mereka tampak khawatir. Kulihat Kaori menjelaskan kronologi kejadiannya, sedangkan Becca hanya mendengar dan sedikit masih tampak bingung. Ia menggelengkan kepalanya lebih dari satu kali.
Lalu mereka menuju kemari, aku segera berpura-pura menutup mata kembali. Kudengar pintu mobil mulai dibuka, kurasakan tangan dingin Ben Johnson dengan lembut meraih tubuhku—ia menggendongku.
“Baiklah, akan ku urus ini. Terima kasih sudah membantu,” ucap Ben Johnson pada Becca dan Kaori.
“Kami senang bisa memercayakan masalah Michelle padamu, Ben..” Kaori terdengar berharap pada Ben.
Saat kudengar suara Ben Johnson mengeluhkan tentang keadaanku, aku sudah berada dikamar. “Bangunlah, aku tahu kau berpura-pura..” Aku lalu membuka mata tanpa ragu, aku tertawa geli. Ben ikut menertawai aku. Aku duduk diatas tempat tidur dikamarku, dan Ben duduk di sebuah sofa kecil disamping pembaringan.
“Sebenarnya apa yang terjadi..?” tanya Ben akhirnya.
“Oh..itu. Terdengar seperti lelucon bagiku, tapi entahlah. Kurasa kau sudah mendengarnya sendiri dari mereka..” jawabku sedikit konyol. Matanya seakan mencari jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan sendiri dalam hati ‘kenapa?’.
“Aku tahu ini tak mungkin, tapi inilah yang terjadi.. Dan, aku menemukan ini” aku menggelengkan kepala. Ku ulurkan sebuah buku harian setebal tiga jari padanya.
“Ini..?” Ia terheran-heran.
“Ya. Aku menemukannya di ruangan tak bernama di Museum Victoria St. West Louis. Dan.., aku tak ingat lagiJelasku. “Apa kau tahu museum itu?” tanyaku saat Ben mulai membuka lembaran-lembaran buku harian itu.
“Ini milik Elizabeth Morgan..” tukasnya.
“Tentu, tanpa kau jelaskan detailnya..” sergahku.
“Apa kau ingat bagaimana kau pingsan?” interogasinya lebih lanjut.
“Tidak. Ini tak berjalan baik, kau tahu? Aku tak paham dengan semua ini. Ini membuatku.., merasa seperti orang tolol” aku terdengar putus asa.
Ben dengan cepat mengalihkan perhatiannya padaku dan menutup buku mengerikan itu. “Tidak, Michelle. Jangan kau paksakan dirimu.., aku tak akan kuasa melihat kesedihanmu” pemilik suara merdu penuh kehangatan juga kepedulian.
“Kurasa bukan aku yang rapuh, tapi kau.. Ben Johnson,” sela-ku begitu aku menyadari kelemahannya.
“Kau benar,” Ben tertunduk lemas, wajahnya menyimpan kepedihan itu lagi. “That is like a strong but weakness, in reality..” akunya. 
“Berhentilah untuk menyesalinya, Ben..!” kataku tanpa berpikir tentang bagaimana perasaannya yang saat ini kurasa sedang carut marut. Aku melihatnya masih tertunduk. Apa yang bisa aku lakukan untuk makhluk seindah dirinya?
“Aku tahu..” ucapnya terdengar makin sedih. Lalu ia memalingkan wajahnya menjauh dariku. “Lupakanlah saja semua..” katanya putus asa.
“Apa?” tanyaku dengan sikap terbodohku.
Ia segera membuka jendela kamar, dan melompat dari pintu jendela. “Ben.. Ben.. Ben Johnson. Apa yang kau lakukan? Kita belum selesai bicara..” teriakku dengan suara sedikit serak. Tapi ia berlalu saja dan mengendarai Volvo hitamnya dengan cepat meninggalkan tempat peraduanku. Aku menahan kesal sendiri meski aku mencoba untuk melupakan kejadian konyol ini.


[1] “Kau cantik sekali malam ini..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar